Punthuk Setumbu, Cara Lain Menikmati Borobudur

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Jawa Tengah adalah Candi Borobudur. Candi ini berada di wilayah kabupaten Magelang. Saya beruntung sudah pernah beberapa kali ke Borobudur meskipun sudah lumayan lama. Meskipun dipastikan tidak ada perubahan dari bangunan dan setiap detail dinding-dinding batu Borobudur, saya masih punya keinginan untuk mampir lagi ke Borobudur.

Pada kesempatan traveling kali ini saya ingin menyambangi Borobudur, tapi dari sisi yang berbeda. Bukan  lagi dari dalam area bangunan candinya. Saya ingin melihatnya dari ketinggian sehingga bisa melihat candi secara utuh. Keinginan itu sebenarnya sudah lama, mungkin sekitar tahun 2009, ketika saya melihat foto Borobudur dilihat dari ketinggian saat matahari terbit. Wah pemandangannya luar biasa keren. Borobudur tampak dikelilingi kabut pagi yang beranjak naik dan berkilau diterpa mentari. Menakjubkan. Waktu itu…kabarnya nama lokasi pengambilan gambar adalah sebuah bukit bernama Punthuk Setumbu.

Keinginan itu sempat terkubur dan sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk jalan-jalan sampai kesana. Sampai akhirnya ada yang datang kembali menyapa penggemarnya. Ya…apalagi kalau bukan AADC 2 yang salah satu lokasi syutingnya di Punthuk Setumbu. Jadi bermunculan lagi deh keinginan-keinginan untuk menikmati sunrise di Punthuk Setumbu.

Akhirnya Saya mendapat kesempatan itu. Melihat Borobudur dari Punthuk Setumbu. Tapi saya tidak berkunjung saat matahari terbit. Hehe harap maklum…sehari sebelumnya saya baru ber sunrise ria di Sikunir (baca : Sunrise di Sikunir). Jadi acara ke Punthuk Setumbu dibuat sesantai mungkin, gak terburu-buru mengejar sunrise. Apalagi rombongan memilih menginap di Jogja.

Start perjalanan saya sekitar jam 8 pagi dari Jogja. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke desa Karangrejo tempat Punthuk Setumbu berada. Beberapa menit sebelum sampai di lokasi, kita akan melintasi persawahan dan kita bisa melihat Borobudur juga. Penunjuk arah ke Punthuk Setumbu juga jelas. Dan kita pun akan sampai di jalan kampung yang lebarnya cukup untuk dilalui mobil pribadi.

Ibaratnya pendakian..inilah desa terakhir sebelum memulai pendakian. Hehe… Di lokasi ini tersedia area parkir dan beberapa fasilitas umum seperti kamar mandi, tempat ibadah, warung, dll. Sebelum mulai pendakian..jangan lupa bayar tiket 15.000 per orang ya..

Setelah membayar tiket..barulah kita mulai perjalanan menaiki jalan setapak yang menanjak. Jalannya sudah tertata rapi dan bersih. Nanjaknya juga gak seheboh di Sikunir 😀 jadi kalau mau lari-lari disini masih bisa lah… Tapi saya pilih jalan santai aja…yess..sebagai sweeper kayak biasanya 😉 Sebelum sampai di puncak bukit, ada beberapa gardu-gardu pandang yang bisa dijadikan tempat foto-foto. Tapi saya lewati aja…pengen cepet sampe di atas 😀

Sampai di atas…lokasinya cukup luas..dan lagi-lagi tampak bersih dan rapi. Ada gazebo dan gardu pandang yang disediakan. Ada pagar pembatas yang terbuat dari bambu tepat di bibir jurang yang menghadap ke arah matahari terbit. Subhanallah …Alhamdulillah…dari tempat ini saya bisa melihat Borobudur seperti yang saya inginkan. Meski tidak saat sunrise..pemandangannya tetap menakjubkan…bagus banget. Borobudur yang butuh waktu beberapa jam untuk tuntas mengelilinginya…tampak imut dilihat dari Punthuk Setumbu.

Melihat Borobudur dari Punthuk Setumbu (dok. dianesuryaman.com)

 

Melihat Borobudur dari Punthuk Setumbu (dok. dianesuryaman.com)

Saya juga bisa melihat gunung-gunung berjajar memagari Borobudur dengan gagahnya. Pada waktu tertentu matahari tampak terbit di tengah-tengah antara Merapi dan Merbabu. Selain Gunung Merapi dan Merbabu di sisi timur..saya juga bisa melihat Bukit Menoreh di sisi lainnya. Tahunya itu bukit Menoreh dari seorang laki-laki yang mengaku sebagai guide.

Baca Juga : Melihat Telaga Warna dari Bukit Sidengkeng

Oya selain bisa melihat Borobudur, dari Punthuk Setumbu ini kita juga bisa melihat bagian atas Gedung Merpati yang juga hits gara-gara Rangga dan Cinta. Setelah puas mengambil gambar di Punthuk Setumbu, guide yang akhirnya kami pakai..menggiring kami untuk melihat Borobudur dari Bukit Purwosari, tak jauh dari Punthuk Setumbu. Jalannya turun sebentar lalu menanjak lagi selama beberapa puluh meter. Di Bukit Purwosari ini Gedung Merpati tampak lebih jelas. Sementara Borobudur tidak lagi terlalu jelas terlihat.

Pemandangan dari Purwosari Hill (dok. dianesuryaman.com)

Disini kita masih disuguhi pemandangan hijau…dan angkuhnya Gunung Merapi dan Merbabu. Tak lama kami di Bukit Purwosari, kami lalu melanjutkan perjalanan turun dan mampir ke Gedung Merpati yang berada di Bukit Rhema. Sesuai namanya gedung ini berbentuk burung merpati, meskipun lebih mirip ayam karena ada cengger di bagian kepalanya. Untuk masuk ke gedung itu pengunjung harus membayar 10 ribu. Di gedung tersebut terdapat basement, dan 4 lantai sempit yang masing-masing terhubung dengan anak tangga untuk mencapai puncak gedung. Ya..puncak gedung itu adalah bagian cenggernya. Untuk bisa berfoto diatas, pengunjung harus antri..bergiliran sekitar 5-7 orang per grup dan masing-masing grup dikasi waktu sekitar 5 menit untuk foto-foto. Dari puncak gedung ini kita masih bisa melihat pemandangan hijau yang menghampar ibarat permadani menyelimuti hingga puncak Gunung Merapi dan Merbabu.

Melihat Borobudur dari Puncak Gedung Merpati (dok. dianesuryaman.com)

Setelah selesai menelusuri ruang-ruang di Gedung Merpati, kami melanjutkan perjalanan  turun. Setelah jalan kaki sekitar 500 meter kami menunggu salah seorang kawan mengambil kendaraan di area parkir Punthuk Setumbu. Ada ojek 10.000 yang siap mengantar.

Perjalanan ke Punthuk bisa juga dibalik rutenya…yaitu dari Bukit Rhema-Bukit Purwosari-Punthuk Setumbu. Tapi dengan rute ini perjalanan dominan tanjakan yang lumayan bikin ngos-ngosan 😀 Untuk ke Bukit Rhema nya sih bisa naik jeep yang disediakan. Nah..kalau rute seperti yang kami pilih..tanjakan hanya saat ke Punthuk Setumbu aja..selebihnya..jalan turun dan kita bisa menempuhnya dengan berlari 😀

Selesai perjalanan ke Punthuk Setumbu..saya dan teman-teman langsung bergegas kembali ke Jawa Timur lewat Selo lalu ke Solo. Dan saya ingin kembali ke Punthuk Setumbu lagi..untuk melihat Borobudur lagi..di kala matahari terbit…

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

You may also like

12 Comments

  1. Jogja, tempat yang selalu ngangenin, entah itu suasananya, alamnya atau terkadang keramahan orang-orang di sana. Yang selalu saya suka itu, ketika melewati desa-desa di Jogja, semilir bau tungku tercium dan melekat menjadi memori tak lekang oleh waktu.

  2. Pernah ke punthuk setumbu jauh sebelum AADC2 menyerang, dibela2in sampe sana jam 1 mlm trus numpang tdr dimushola eh subuh malah ujan, zooonk cm dpt kabut, tp yg heran meski hujan masih aja pada naik 😀

    1. Wah sayang banget ya…perlu diulang pas musim kemarau tu 🙂 Gak mau rugi pastinya kalo udah nyampe sana gak naik…jadi meksi ujan ya tetep naik..hehe

  3. Kalau mau ke Punthuk Setumbu menginapnya di desa Tingal saja. Desa ini masih asri jaraknya 1 km dari Borobudur dan nggak terlalu jauh juga kok kalau mau ke Punthuk Setumbu. Bisa naik sepeda atau motor. Kalau mau tau Desa Tingal seperti apa bisa baca blog Saya di tutursiska.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *