Doa & Tata Cara Menyembelih Ayam Menurut Syariat Islam

Cara Menyembelih ayam
SUmber : Suara.com

Ayam adalah salah satu jenis daging yang sering dikonsumsi sehari-hari. Terlebih ketika menjelang perayaan Lebaran, daging ayam menjadi daging yang paling banyak dicari orang. Untuk mendapatkan daging ayam, kita bisa memotong sendiri agar lebih terjaga keamanannya. Perlu kita ketahui tentang doa dan tata cara menyembelih hewan, sebab titik kritis untuk mendapatkan daging ini adalah ketika penyembelihan. Lantas apakah Anda sudah tahu cara menyembelih ayam yang tepat sesuai syariat Islam? Yuk, simak doa dan tata cara menyembelih ayam berikut ini!

Doa Sebelum Menyembelih Ayam

Penyembelih hewan termasuk ayam harus mengucapkan “Bismillahirrahmanirahiim” terlebih dahulu. lalu dilanjutkan membaca doa menyembelih hewan berikut ini: 

اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ

Allâhumma hâdzihî minka wa ilaika, fataqabbal minnî yâ karîm

Artinya: 

“Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat dari-Mu. Dan dengan ini, aku bertaqarrub kepada-Mu. Karenanya wahai Tuhan Yang Maha Pemurah, terimalah taqarrub-ku.”

Baca Juga :

Resep Lauk Ayam

Kandungan Gizi Telur

Tata Cara Menyembelih Ayam

Penyembelihan hewan tidak terkecuali ayam dianggap sah jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

Alat penyembelihan hewan haruslah tajan, yang dapat mengalirkan darah, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Rafi’ bin Khadij. Ia berkata:

يَا رَسُوْلُ اللهِ اِنَّا لاَقُوْا العَدُوَ غَدًا وَلَيْسَ مَعَنَا مُدًى قاَلَ ماَ اَنْهَرَ الدَمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ لَيْسَ السِنَ وَالظُفْرَ وَسَأُحَدِثُكَ أَماَ السِنُ فَعَظْمٌ وَاَمَا الظُفْرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ [رواه أحمد والبيهقي]

Artinya: 

“Ya Rasulullah sesungguhnya kami besok akan berhadapan dengan musuh dan kami tidak mempunyai pisau (untuk sembelih). Maka Nabi saw bersabda: Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan disebutkan atasnya nama Allah, makanlah (sembelihan tersebut) apabila yang dipakai untuk penyembelihan itu bukan dengan gigi dan kuku. Dan saya akan menerangkan itu kepadamu. Adapun gigi itu adalah tulang dan adapun kuku itu adalah pisau menurut kaum Habasyah.” [HR. Ahmad dan al-Baihaqi]

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-An’am (6): 121;

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ [الأنعام (6): 121]

Artinya: 

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-arang yang musyrik.”

Perlu dicatat bahwa jika ayam belum mati secara sempurna, maka sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke dalam air panas karena bisa jadi ayam tersebut akan merasakan sakit yang lebih lama daripada disembelih itu sendiri. 

Hal itulah yang menjadi alasan kenapa cara menyembelih ayam atau hewan lainnya, selain harus terpenuhinya syarat-syarat di atas, juga harus diperhatikan pula adab atau etika kepada hewan tersebut. Di mana adab dan etika tersebut seperti tidak dengan alat sembelihan yang tumpul sehingga lebih terasa sakitnya dan lama matinya, tidak menampakkan alat sembelihan di hadapan hewan yang akan disembelih dan tidak menguliti sebelum matinya sempurna, termasuk memasukkannya ke dalam air panas untuk cabut bulu. 

Semoga bermanfaat..

Tinggalkan Balasan