Menjaga Kesehatan Mental Anak di Masa Pandemi

Sejak menjadi ibu bagi 2 anak, saya otomatis bertanggung jawab terhadap kesehatan anak-anak. Bukan hanya kesehatan fisik, tapi juga mental dan spiritual. Kesehatan mental merupakan tantangan tersendiri, karena isu-isu kesehatan mental seoertinya memang baru-baru ini saja menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari kita.

Kebutuhan kesehatan mental anak cenderung sulit dipahami dan sangat mungkin terlewatkan oleh orangtua dalam mengasuh anak ya gak sih…? Kesehatan mental pada anak bukan Cuma diartikan sebagai kondisi mental anak yang tidak mengalami penyakit mental. Tapi juga mencakup kemampuan untuk berpikir secara jernih, mengendalikan emosi, dan bersosialisai dengan anak seusianya.

Anak yang memiliki kesehatan mental yang baik akan memiliki beberapa karakter positif, misalnya bisa beradaptasi dengan keadaan, menghadapi stress, menjaga hubungan baik dan bangkit dari keadaan sulit.

Mengenali Adanya Gangguan Kesehatan Mental

Gangguan kesehatan mental bisa dideteksi dengan adanya perubahan sikap yang nyata dalam kepribadian dan temperamen. Tanda-tanda tersebut diantaranya :

  • Kelelahan atau mengaku lelah sepanjang waktu
  • Marah atau bertingkah, anak sering menutupi depresinya dengan perilaku agresif
  • Menarik diri secara sosial
  • Kesulitan berpikir atau berkonsentrasi
  • Mengekspresikan perasaan tidak berharga atau putus asa
  • Bicara tentang menyakiti diri sendiri atau bunuh diri

Nah dengan gejala-gejala tersebut maka kita sebagai orang tua perlu lebih aware nih…Bisa dilakukan pendekatan untuk memastikan lebih detail tentang apa saja yang dialami anak.

Menjaga Kesehatan Mental Anak

Beberapa hal berikut ini bisa dilakukan loh …:

  • Saat bersama anak lebih fokus pada anak dan sebisa mungkin ortu tidak sibuk dengan ponsel atau aktivitas lainnya yang bisa membuat anak merasa diabaikan.
  • Meluangkan waktu untuk bisa dekat dengan anak. Bisa dilakukan di rumah atau di luar rumah bila memungkinkan. Kadang anak merasa bosan dengan situasi pandemic yang harus banyak di rumah. Jadi sesekali diajak ke luar rumah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan bisa loh menjadi sarana dekat dengan anak.
  • Mengulas tentang beberapa hal yang memang disukai anak. Kalau sekarang sepertinya Korea lagi digandrungi ya.. Yaudah mau tak mau kita coba deh mengenal dunia mereka ini. Tidak sampai ikut menggandrungi juga sih.. cukup dengan sekedar nanya ke anak-anak tentang idolanya udah bisa jadi bahan obrolan yang seru.
  • Saat anak menceritakan permasalahan yang dihadapinya atau apa pun yang diceritakannya, kita menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan sesekali merespon. Kadang kita tidak perlu meniumpali dengan pendapat dari sisi orang tua. Karena anak inginnya hanya didengarkan saja. Atau bila memang diminta pendapat oleh anak, baru lah kita menyemapiakan pandangan kita tentang masalah yang disampaikan anak.

Upaya dekat dengan anak ini memang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Artinya kita memang harus melakukannya dalam beberapa waktu. Apabila ternyata permasalahn yang dihadapi anak tidak dapat dipecahkan oleh kita sebagai ortu, ada baiknya menghubungi ahli untuk penanganan lebih lanjut.

Oiya masalah menghadapai masalah kesehatan mental pada anak memang butuh perhatian serius dan referensi yang tepat. Salah satu yang bisa dijadikan referensi adalah berbagai event yang digelar oleh SMA Pintar Lazuardi. Banyak topic menarik yang diulas setiap minggunya, termasuk tentang kesehetan mental.

Medsos SMA Pintar Lazuardi :

Instagram @smapintarlazuardi

Twitter @smapintarLaz

Youtube : Sma Pintar Lazuardi

Biar gak ketinggalan infonya, ikuti aja media sosial SMA Pintar Lazuardi ya.. Banyak narasumber kompeten yang siap memberikan insight bagus tentang berbagai kendala yang dihadapi ortu.

Semoga kita dan anak-anak selalu dalam keadaan sehat jiwa raga mental dan spiritual ya…

Tinggalkan Balasan