Penanganan Kusta di Masa Pandemi

Udah cukup lama mengenal penyakit kusta, ternyata sampai sekarang pun Indonesia masih belum terbebas dari kusta. Tercatat setidaknya  dari 34 provinsi di Indonesia, masih ada 8 provinsi yang belum mendapatkan status eliminasi kusta. Delapan provinsi itu adalah Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Padahal pemerintah sendiri mentargetkan, pada tahun 2024 Indonesia berstatus eliminasi kusta di seluruh kabupaten kota tanpa terkecuali. Dengan adanya pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia apakah penanganan kusta jadi terabaikan, dan target tidak tercapai?

Kalau menurut catatan WHO, sudah lama masuk kategori Penyakit Tropis Terabaikan. Jadi tidak dalam kondisi pandemic pun penanganan kusta memang sudah terabaikan. Apalagi di masa pandemic seperti sekarang ini. Dimana pemerintah dan semua lini fokusnya menangani pandemic.

Penanganan Kusta

Hal ini juga diakui Wakil Supervisor Kusta Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, Komarudin, S.Sos., M. Kes. Ada berbagai kebijakan yang harus diterapkan untuk menghadapi pandemic, termasuk penundaan hal-hal yang sifatnya mengumpulkan massa.Selain itu juga revisi anggaran juga menyebabkan tertundanya berbagai aktivitas terkait penanganan  kusta.

Meski akhirnya penanganan kusta kembali dilanjutkan dengan berbagai penyesuaian. Misalnya saat survey petugas wajib menggunakan APD dan lebih berfokus pada pemeriksaan gangguan kulit.

Bapak Komarudin dalam acara Ruang Publik KBR 31 Mei 2021 juga menyebutkan, selama masa pandemic temuan kasus kusta memang menurun. Tetapi menurutnya bukan semata karena tidak ada penularan, tapi memang aktivitas pencarian kasus baru kusta berkurang juga.

Selain itu pihaknya selama ini juga melakukan upaya deteksi dini dengan melibatkan petugas kesehatan di tingkat desa.

Deteksi Dini Kusta

Penanganan Kusta
Sumber Gambar : Halodoc

Mendeteksi dini kusta adalah salah satu kunci penanganan kusta. Bapak Komarudin menyampaikan, beberapa hal yang perlu diwaspadai adalah gangguan pada kulit, seperti munculnya lesi, benjolan atau nodul pada kulit. Hal yang membedakan dengan penyakit kulit lainnya adalah benjolan kusta berwarna pucat dan tidak hilang selama berminggu bahkan berbulan-bulan. Jika muncul tanda-tanda tersebut, segera periksakan ke dokter untuk dipastikan lebih lanjut.

Bila gejala awal dibiarkan tanpa penanganan, lama-kelamaan kusta bisa mempengaruhi saraf dan menyebabkan beberapa gejala mati rasa pada lengan dan kaki serta kelemahan otot.

Biasanya diperlukan sekitar 3 sampai 5 tahun untuk gejala muncul setelah bersentuhan dengan bakteri penyebab kusta. Bahkan beberapa orang tidak mengalami gejala sampai 20 tahun kemudian. Waktu antara kontak dengan bakteri dan munculnya gejala disebut periode inkubasi. Masa inkubasi kusta yang panjang terkadang membuat dokter kesulitan untuk menentukan kapan dan di mana orang tersebut terinfeksi bakteri kusta. 

Perlu dilakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda dan gejala penyakit. Selain itu, juga dilakukan biopsi dengan mengangkat sepotong kecil kulit atau saraf dan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis lebih lanjut. Tes kulit lepromin juga dilakukan untuk menentukan bentuk kusta.

Kunci penanggulangan kusta adalah menemukan kasus kusta dan mengobatinya untuk menyembuhkan dan mencegah deformitas organ tubuh (disabilitas). Kunci lainnya adalah memeriksa kontak penderita kusta untuk menemukan apakah ada kasus baru antara mereka dan mencegah penularan kepada orang lain. Selain itu perlu juga dipastikan bahwa penderita kusta melakukan pengobatan dengan tuntas, hingga penularan kusta dapat diputus.

Oiya ada komponen penting yang perlu diingat juga, eliminasi kusta hanya akan tercapai bila tersedia sebuah kondisi yang inklusif di masyarakat. Penderita kusta dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) hidup tanpa diskriminasi dan stigma dan dapat menikmati dan menjalani kehidupannya secara bermartabat.

DR. Rohman Budiyanto, SH., MH., Direktur Eksekutiv TheJawa Pos Institute of Pro Otonomi JPIP sebagai nara sumber di acara yang sama mengungkapkan salah satu upaya menghapuskan stigma adalah tidak melakukan diskriminasi terhadap OYPMK.Pihaknya sendiri mengutamakan kompetensi atau kemampuan dalam proses rekrutmen. Meskipun selama ini pihaknya belum pernah menemukan pelamar kerja yang penderita kusta maupun OYPKM.  

Untuk lebih kengkapnya tentang penangana kusta yang diulas di Ruang Publik KBR bisa disimak disini :

Semoga dengan adanya pandemi setidaknya penanganan kusta dan penyakit lainnya tetap optimal. Indonesia bebas kusta 2024 insyaallaah tercapai.

Salam Sehat!

15 Replies to “Penanganan Kusta di Masa Pandemi”

  1. Aamiin ya robbal alamin semoga target sosialisasi stigma dan diskriminasi tercapai ya, karena itu kita sebagai blogger harus memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa penyakit kusta bisa disembuhkan, obatnya ada di puskesmas

    1. Ngeri yah kak,bahkan Klau gak dotangani ada bagian tuh yang jadi hilang dan coak yak,naudzubillahimindzalik,makasih ya kak,infonya.

  2. Aamiin, moga semua warga indonesia sehat dan bebas dari semua penyakit. Moga targetnya tercapai yah, walau sekarang heboh pandemi

    1. penyakit kusta bukan untuk dikucilkan jadi penderita berhak dukungan supaya mereka cepat sembuh

    2. Penderita penyakit kusta di negara kita emang harusnya ditangani dengan serius ya, semoga sih negara kita bisa lepas dari penyakit kusta.

  3. Aamiin. Semoga juga masyarakat cepat sadar dg kondisi saat terinfeksi dini dan penanganannya juga cepat ya. Dan satu lagi semoga tidak mendiskriminasi OYPMK.

  4. Semoga tercapai target semua provinsi di Indonesia mendapat status eliminasi bebas kusta.

  5. Wiwin+Pratiwanggini says: Balas

    Aamiin.. Sedih saya kalo melihat penderita kusta. Sudah sakitnya memakan waktu lama, nanti setelah sembuh masih mengalami stigma pula. Memang butuh kesabaran agar Indonesia bebas kusta, apalagi masa pandemi begini. Tetap optimis yuk!

  6. Jujur, saya pikir penyakit kusta sudah tidak ada lagi di masa sekarang ini. Jadi tambah informasi mengenai penanganan penyakit yang satu ini

  7. yang penting kita bisa mencapai keinginan Indonesia bebas kusta dan pemberdayaan penyintas juga bisa maksimal sih ya

  8. Mudah-mudahan banyak masyarakat mulau ngerti ya ga mengucilkan lagi penderita kusta. Semoga Indonesia juga bebas kusta

  9. Semoga tidak ada lagi diskriminasi thd penderita kusta. Mereka jg berhak mendapatkan support utk segera sembuh

  10. Bahaya bgt ya kusta ini, agak susah dideteksi penyebarannya krna masa inkubasinya yg ternyata bervariasi.
    Semoga bisa segera ditemukan pencegahan dan pengobatannya

  11. Wah lama juga ya sampai ada yang 20 tahun kemudian baru bergejala. Hiks. Semoga aja kusta segera tereleminasi dari Indonesia ya kak

  12. Panjang juga ya masa inkubasi kusta tuh, bahkan bisa sampai 20 tahun gitu. Agak sulit juga untuk mendeteksinya. Jika sudah tahap lanjutan penyakitnya bisa menyebabkan deformitas juga ya.

Tinggalkan Balasan