Produk Pertanian Favorit dari Dataran Tinggi Dieng

Suka pantai atau gunung? Kalau saya ditanya begitu saya pasti jawab gunung. Karena saya tinggal di tempat yang banyak terdapat pantai…jadi wajar donk ya kalau saya selalu memilih gunung untuk tempat berwisata. Yang saya suka dari gunung tentu saja selain pemandangannya yang emang amazing, saya juga suka dengan hawanya yang dingin. Kultur masyarakat  dan karakter bangunan di kawasan pegunungan selalu bikin saya terpesona.

Itulah kenapa ketika saya mendapatkan tawaran untuk berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, saya langsung iyakan saja. Tanpa saya berpikir panjang bahwa Dieng ternyata jauh juga ya dari tempat saya di ujung timur pulau Madura 😀

Kesan Pertama Tentang Dieng

Saya tiba di kawasan dataran tinggi Dieng menjelang pagi. Masih gelap, dan udara dingin udah pasti terasa sampai ke tulang.  Tujuan pertama saya dan teman-teman adalah Bukit Sikunir, tempat terbaik menyambut terbitnya matahari 🙂

Sekitar jam 3 pagi ternyata di parkiran sebelum menuju Bukit Sikunir sudah ramai. Yasih waktu itu week end..wajar saja kalau ramai. Sepanjang perjalanan menuju titik awal pendakian ke Sikunir banyak sekali saya menjumpai pedagang kentang olahan. Bukan kentang goreng ala restoran cepat saji ya. Ini kentang bulat kecil yang dibumbu. Kentang segar dari wajan cukup ditaruh dalam wadah berbahan styrofoam, siap disantap. Iya..disantap dengan kulitnya gitu..

Sunrise di Sikunir (dok. pri)

Perjalanan saya saat ke Sikunir bisa dibaca disini : Sunrise di Sikunir 

Tapi saya tak langsung beli saat perjalanan naik ke Sikunir. Nah setelah turun dari Sikunir..saya merasa harus jajan kentang!   Begitu sampai di kaki Sikunir lagi, langsung saya pesan kentang yang sudah saya incar. Beneran gak salah pilih…kentangnya enak banget.. 1 porsi cukup 5000 rupiah saja waktu itu. Kenangan kelezatannya..masih teringat sampai sekarang…setelah lewat 4 tahun.

Kentang khas Dieng dengan latar belakang lahan kentang

Istimewanya Kentang Dieng

Meski banyak kenangan yang harus saya bongkar saat kunjungan ke Dieng 2016, kentang ini lah yang teristimewa. Hahaha..yayaya gak jauh-jauh dari urusan makanan ya… Bagaimana tidak istimewa, karena Dieng adalah penghasil kentang terbesar di Indonesia. Jadi selain carica, kentang adalah produk pertanian favorit dari Dataran Tinggi Dieng.

Menurut Badan Pusat Statistik (2014), produksi kentang terbesar di Indonesia terdapat di Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 273.513 ton dan Kabupaten Wonosobo dikenal sebagai salah satu penghasil kentang terbesar di Jawa Tengah. Lebih dari 85% produksi kentang di Kabupaten Wonosobo dihasilkan di Kecamatan Kejajar yang juga dikenal sebagai sentra usahatani kentang di Kabupaten Wonosobo. Letaknya yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng membuat kentang dapat tumbuh subur di daerah tersebut karena kentang sangat baik dibudidayakan di lingkungan beriklim sejuk. (https://terastani.faperta.ugm.ac.id)

Kentang Dieng yang disebut-sebut sebagai kentang favorit di Indonesia mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya :

Rendah karbo dan gula, kentang Dieng rasanya agak tawar dan cenderung lebih lembut dan empuk. Kadar gula dan karbonya lebih rendanh dibanding kentang dari daerah lain. Dengan rasa yang agak tawar membuat kentang ini mudah diolah menjadi berbagai jenis makanan dan tentu saja cocok untuk diet 😉

Ukuran kentang besar, ukuran kentang Dieng juga cukup besar dengan ukuran diameter 50 mm – 90 mm. kalau yang kecil-kecil saya santap saat di Dieng memang beda varietas ya… 🙂

Lebih awet dan tidak mudah busuk, kentang asal Dieng karena ditanam di ketinggian lebih dari 1500 mdpl mempunyai karakter kadar airnya yang relative rendah, sehingga lebih awet dan tidak mudah busuk.

Beberapa keunggulan tersebut tentu saja membuat kentang Dieng disukai konsumen.

Tantangan Mempertahankan Kentang Dieng Tetap Favorit

Kawasan dataran tinggi memang ideal untuk kentang agar bisa tumbuh subur. Karena memang syarat tumbuh kentang antara lain ketinggian 500-3000 m dpl, curah hujan 200-300 mm/hari (pada masa pembentukan umbi dibutuhkan 100 mm/hari, dan suhu 20-30oC adalah suhu yang sesuai untuk pertumbuhan batang dan daun, sedangkan suhu kurang dari 20oC cocok untuk inisiasi dan pembesaran umbi. Selain itu lahan yang baik digunakan untuk budidaya kentang diantaranya memiliki tekstur sedang, gembur, subur dan berdrainase baik, dengan pH antara 5-6,5. (hortikultura.litbang.pertanian.go.id)

Kentang dieng berdampingan dengan carica (dok.pri)

Tapi karakter lahan di dataran tinggi kan cenderung miring bahkan sampai lebih dari 45 derajat. Kondisi ini memang tidak disarankan untuk ditanami tanaman semusim yang seperti kentang dna jenis sayuran lainnya. Tantangan lainnya adalah penggunaan pupuk yang berlebihan demi mengejar produksi. ‘

Bagaimana petani di kawasan dataran tinggi Dieng mengupayakan agar kentang Dieng tetap menjadi favorit? Ada beberapa yang hal yang saat ini sudah dilakukan petani di Dieng, yaitu :

  • Melakukan rotasi tanaman, karena sebelumnya  petani kentang di Dieng terus menerus menanam kentang sepanjang tahun. Rotasi dilakukan dengan tanaman sayur lainnya, seperti wortel dan kol.
  • Menanam tanaman sela, tanaman sela diberikan selain untuk memperbaiki keadaan tanah, juga untuk mencegah serangan hama.
  • Menanam tanaman berkayu, terutama di kawasan yang kemiringannya curam (sampai 45 derajat) untuk mencegah erosi dan hilangnya lapisan atas tanah (top soil).
  • Penggunaan pupuk organik secara bijak, meskipun namanya organic tetap harus memperhatikan dosisnya ya…petani di dieng menggunakan pupuk organic dari kotoran hewan (kambing, ayam, sapi).

Bila petani di kawasan dieng menerapkan prinsip pertanian yang berkelanjutan secara serempak, saya yakin…kentang Dieng akan tetap istimewa. Berdampingan dengan keistimewaan potensi negeri kayangan lainnya.

You may also like

27 Comments

  1. Yanb paling aku suka di dieng itu carica, hmmm bisa habis banyak aku. Bisa beli banayk buat dimakan di rumah.
    Kentangnya juga bagus ya di sana ternyata

  2. Kentang dieng memang terdengar sampai kemana2 ya, saya juga sama orang gunung disini mbak eheh. semoga suatu saat bisa berkesempatan ke dieng. Aaamiiin 🙂

  3. Aku biasanya setahun bisa beberapa kali ke Wonosobo, terutama Dieng. Ini udah 7 bulan belum kesana lagi. Suka beli carica, kentang, sama cabe gendol yang pedes itu.

  4. Kentang daerah pegunungan emang rasanya enak ya mbak, apalagi disantap pas masih hangat di tengah hawa yang dingin.

    Saya belum pernah nyicip kentang dari dataran tinggi dieng, kalau sirup caricanya sering.

  5. Makan kentang hangat dengan latar belakang seindah itu bikin rasa kentangnya makin enak ya, Mbak. Dan bikin yang baca juga penasaran seenak apa kentang Dieng. Semoga bisa ke sana suatu saat nanti.

  6. Pernah diajak sama kakak saya ke Dieng, cuma waktu itu saya masih di Malaysia, sekarang sudah kumpul di Bogor, malah enggak bisa kemana-mana karena pandemi. Semoga suatu saat bisa melihat keindahan Dieng dari dekat

  7. wah ternyata dieng daerah penghasil kentang juga ya mak.. aku baru tau nih.. Pernah denger kentang dieng juga sih, mungkin selama ini aku salah satu konsumennya tapi gatau nama kentangnya.. hihi

  8. Belum pernah ke Dieng tapi jadi ada gambaran ternyata di sana kentang yang menjadi primadona. Gimana bentuknya ya, jangan-jangan aku udah pernah makan kentang Dieng. Eh apa dibuat oleh-oleh di sana? barangkali ada bentuk keripik?
    Kalau tanaman carica itu seperti apa ya mbak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *