Jaga Laut di Masa Pandemi, Mulai dari Kita Sendiri

Setelah Hari Raya Idul Fitri 2018 saya berkunjung ke Gili Labak, salah satu destinasi wisata bahari di Sumenep Madura. Perjalanan kali ini ombaknya lumayan besar, ditambah lagi kondisi kapal yang sedang tidak terlalu bagus. Jadi di tengah perjalanan kapal sempat rusak dan harus ditarik kapal lain untuk bisa sampai di tujuan. Alhamdulillah sih kami sampai di Gili Labak dengan selamat meski sangat mendebarkan. Perjalanan tersebut pernah saya unggah di Instagram.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Blogger Madura (@blogger_madura) pada

Seperti biasa, setelah sampai di pulau, kami beristirahat sebentar lalu kembali ke lautan tapi hanya beberapa meter saja dari bibir pantai. Yes..kami akan melihat keindahan bawah laut di perairan sekitar Gili Labak ini. Sesampai di spot yang yang kami inginkan, kami pun mulai turun ke laut. Saya yang lebih banyak memantau saja dari atas perahu mencoba memberi makan ikan. Biasanya sih dilempar sedikit saja ikan langsung berdatangan.

Tapi kali ini tak seperti biasanya..ikan warna warni tak ada satu pun yang mendekat. Sampai berkali-kali saya lempari makanan tetap saja gak ada ikan yang datang. Tumben banget sih… Ah yaaa..mungkin karena sedang musim ombak saja kondisi seperti ini.

Selain tak ada ikan yang bisa kami lihat, ombak besar juga membuat air di sekitar spot snorkeling juga keruh. Akibatnya kami tidak bisa leluasa melihat keindahan bawah laut.

Kecewa?Pasti lah…karena untuk bisa sampai ke pulau ini kan penuh perjuangan yak…Biayanya juga gak sedikit loh…Satu orang bisa ratusan ribu lah..

Biasanya snorkeling bisa seseru ini

Di kesempatan lain saya juga mengalami hal yang membuat saya berpikir kemana-mana. Saat tiba di pulau, di bibir pantai kotor sekali. Sampah apa saja berserakan, mulai kayu gelondongan, botol plastik bekas minuman, sandal jepit, pakaian, bekas kemasan makanan, sampai popok bayi sekali pakai ada. Ya ampun…sampah dari mana saja ini? Secara warga di pulau ini hanya beberapa KK saja dan tidak ada bayi.

“Kemarin ombak besar, jadi banyak sampah yang mendarat disini” jawab seorang perempuan paruh baya dalam bahasa Madura. Perempuan warga pulau ini sedang memungut sampah yang dibawa oleh air laut.

Rasanya leher saya tercekat melihat tumpukan sampah, terutama popok. Warga di pulau tak ada yang memakai popok kan…tapi mereka dapet sampahnya. Begitu pun penghuni lautan lainnya…kebagian sampah daratan.

Ombak besar ini kalau sekarang gak bisa diprediksi, tidak seperti dulu..kita bisa tahu kapan saja musim ombak. Misalnya bulan April sampai Juli dikenal sebagai musim laut tenang, begitu juga sekitar September sampai Oktober. Tapi sekitar 5 tahun terakhir..musim ombak besar selalu ada tiap bulannya. Tak bisa ditebak…saat di pelabuhan laut tenang..eh di tengah perjalanan ternyata ombaknya besar.

Pengalaman lainnya adalah saat saya berkunjung ke Gili Pandan, masih wilayah kabupaten Sumenep juga. Ulasannya bisa dibaca di postingan tentang Island Hopping

Pulau yang penampakannya mirip bentuk hati ini kabarnya dulu luasnya sekitar  1 km persegi. Tapi saat saya ke pulau tersebut pada tahun 2018 saja sudah tinggal 100 meter persegi ! Dan rupanya pulau-pulau kecil  di wilayah Sumenep banyak yang bernasib sama, hilang perlahan. (Kompas, 16 Februari 2009)

Semua Kondisi Ini, Apa Penyebabnya?

Fenomena yang saya sampaikan di atas nyata adanya dan saya alami sendiri. Saya pun jadi berpikir, kalau tak ada perubahan terhadap perilaku kita, anak cucu saya kelak bisa menikmati apa dari lautan..

Perilaku apa sih yang membuat kondisi laut berubah demikian?Banyakkkk….Buang sampah sembarangan aja misalnya. Dampaknya bukan hanya banjir di daratan ya. Perilaku yang tampaknya sepele ini dampaknya sangat luar biasa. Sampah yang dibuang sembarangan, akan terbawa air ke sungai, air sungai mengalir sampai ke laut. Apalagi sampah-sampah yang secara sengaja dibuang ke sungai. Sama saja dengan membuang sampah ke laut.

Sudah sering kan kita dengar ikan paus mati karena isi perutnya adalah sampah.. Bukan tidak mungkin sampah yang kita buang secara seenaknya itu juga berkontribusi pada matinya ikan paus tersebut. Itu baru ikan yang besar dan diketahui nasibnya. Belum lagi dengan hasil penelitian tentang ikan-ikan bahkan garam yang terkontaminasi mikroplastik. Dari mana asal plastik-plastik itu kalau bukan dari daratan?

Sampah plastik bukan cuma mengkontaminasi ikan yang bakal kita konsumsi, tapi juga makhluk hidup air lainnya. Plankton yang menjadi makanan ikan-ikan tersebut juga akan terpengaruh bahkan mati. Padahal keberadaan plankton sangat penting bagi ketersediaan oksigen di perairan. Kalo plankton pada mati selain ikan akan kehilangan makanan, perairan juga akan kekurangan oksigen. Ini dampaknya akan kemana-mana.

Khawatir saja Tidak Cukup, Kita Bisa Apa?

Nah…kita sudah punya gambaran bagaimana perilaku kita di daratan sangat berdampak bagi kehidupan laut. Karena perilaku manusia di daratan berakibat perairan tak lagi menyajikan ikan-ikan yang cantik, terumbu karang tidak lagi bertumbuh, laut keruh terus menerus, apa iya wisatawan mau berdatangan?

Kalau ikan-ikan terkontaminasi mikroplastik terus bertambah ..apa iya tujuan makan ikan biar pintar bakal tercapai?

Tentu saja tidak…

Karena gak pengen hal itu terjadi..ayok kita lakukan hal-hal kecil tapi penting. Ya mulai dari kita sendiri dulu…lalu menular ke keluarga, kerabat, dan teman.. Bila menjadi kebiasaan yang serempak, tentu akan terasa dampaknya. Apa saja yang bisa kita lakukan?

  • Mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Ya..ini tuh emang sudah tidak terkendali ya…Saya sendiri masih berusaha untuk mengurangi dengan cara bawa tas sendiri setiap akan berbelanja baik ke pasar maupun ke mini market. Untuk menghadapi pedagang kadang tak mudah, karena mereka beranggapan memberikan kantong plastik adalah bagian dari layanan mereka, tak baik bila menolak. Ada juga yang beranggapan, kalau beli sesuatu gak diplastikin ntar anaknya disia-siakan hohoho…saya baru denger istilah ini sejak sering menolak belanjaan saya diplastikin…Tapi kalau sudah terlalu ngotot, saya ngalah aja deh.. Untungnya gak banyak yang berpendapat demikian.
  • Mengurangi penggunaan kemasan minuman sekali pakai. Seiring dengan bertumbuhnya bisnis kuliner, saya melihat ada dampak juga nih terhadap penggunaan kemasan plastik, terutama minuman. Secara agak ribet juga kan bawa tempat minum kosong setiap mau jajan minuman… jadi solusinya ya mengurangi jajannya. Jadi gak terlalu sering membeli minuman atau makanan yang kemasannya plastik. Begitu pula saat berwisata, seminim mungkin membeli makanan minuman dengan kemasan plastik. Bisa diantisipasi dengan bawa bekal secukupnya dari rumah. Agak ribet memang…tapi pasti lebih melegakan karena kita gak menyumbang sampah di tempat wisata.
  • Memisahkan sampah plastik, terutama kemasan makanan dan minuman. Memisahkan ini tujuannya agar lebih mudah bagi pemulung untuk memanfaatkan sampah. Kalau kita bisa mengolah sampah sendiri itu akan lebih baik.
  • Mengurangi penggunaan popok atau pembalut sekali pakai. Ini juga masih PR banget sih…dan ada kesempatan bagus ketika anak-anak saya mulai menstruasi. Membiasakan sejak dini akan lebih mudah, jadi sejak awal saya mengenalkan penggunaan pembalut yang bisa dipakai ulang. Meski gak full, setidaknya ada masa-masa menstruasi tidak banyak bisa menggunakan pembalut yang lebih ramah lingkungan.
  • Kalau ada kesempatan saya kadang ikutan kegiatan lingkungan hidup yang diadakan teman-teman, seperti penanaman atau penghijauan di kawasan pantai. Bisa juga nih ajak anak-anak kalau memang memungkinkan…Aktivitas seperti ini bakal diingat sampai mereka dewasa.

Untuk berwisata ke perairan memang ada beberapa etika yang perlu diperhatikan…jadi please…kita patuhi yuukkk… Contohnya saja untuk tidak menyentuh terumbu karang apalagi menginjaknya sampai patah. Karena pertumbuhan terumbu karang itu sangat lambat hanya 1 cm per tahun. Jadi untuk mengembalikannya tentu butuh waktu yang lama sekali yaa… Nah dengan menjadi wisatawan yang beretika, sama dengan ikut menjaga kelestarian wisata itu sendiri. Gak pengen kan..cerita kita melihat keindahan bawah laut hanya dongeng belaka ..?

Menjaga Laut di Masa Pandemi

Situasi pandemi sebenarnya diakui memberi  manfaat pada tempat-tempat wisata alam. Laut dan pantai lebih bersih karena tidak ada aktivitas wisata. Hal ini disampaikan Githa Anathasia, Pengelola Kampung Wisata Arborek Raja Ampat dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat Papua Barat sebagai nara sumber dalam Talkshow di KBR (Kantor Berita Radio) akhir Juni lalu. Githa menyampaikan kalau selama pendemi memang kawasan Raja Ampat menjadi lebih tenang, tidak ada lagi hilir mudik kapal yang mengantar wisatawan. Otomatis pembuangan limbah dari kapal tersebut  ke laut juga berkurang.

Narasumber lain dalam talkshow ini,Prof. Muhammad Zainuri (Guru Besar Kelautan Universitas Diponegoro Semarang) membenarkan apa yang disampaikan Githa. Fakta lainnya disampaikan Profesor Zain, bahwa perubahan iklim juga menimbulkan gejala alam yang semakin tidak menentu, seperti aberasi, kenaikan permukaan air laut, gelombang  tinggi, dll.

Nah setelah mulai beraktivitas dengan pola new normal tentu kondisi positif perlu dipertahankan di berbagai tempat wisata bahari dan kawasan perairan lainnya. Hal-hal berikut ini bisa kok dilakukan :

Berwisata ke pantai di masa pandemi
  • Pengunjung berwisata dengan lebih bijak, misalnya tidak ugal-ugalan berfoto di bawah air sampai merusak terumbu karang.
  • Bagi pemerintah yang berwenang atau pengelola bisa mengatur agar kunjungan ke tempat-tempat wisata tidak berlebihan.
  • Pengelola wisata juga perlu menerapkan protokol kesehatan yang ketat, diikuti dengan penyediaan fasilitas yang menunjang. Misalnya penggunaan masker disarankan yang berbahan kain dan tidak sekali pakai. Selain itu bisa juga dengan menyediakan fasilitas mencuci tangan dengan sabun yang pembuangan airnya tidak langsung ke laut.
  • Bagi pedagang di sekitar tempat wisata hanya menyediakan makanan dan minuman dengan kemasan organik atau yang bisa dipakai ulang, menyediakan minuman isi ulang sehingga pengunjung bisa membeli dengan menggunakan wadah sendiri (termasuk untuk air minum).

Menjaga laut pasca pandemi ini memang tantangan tersendiri, mengingat alam baru saja ‘bernapas’  dan memulihkan dengan caranya sendiri.  Tapi untuk menjaganya tak bisa sendiri. Saya harus bergerak bersama teman-teman yang lain..Alam butuh kontribusi saya dan Anda. Yukk mulai dari kita sendiri…

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya bisa Anda lihat disini

You may also like

50 Comments

  1. i think during the pandecmi little people playing or visit the beach. Maybe the beach to be clean and much biota be good life. I hope always our beach to be take care from the bad thing

  2. Perlu adanya kesadaran dari diri sendiri, yg paling simple aja sperti jangan buang sampah sembarangan atau jangan meninggalkan jejak sampah ditempat wisata

  3. Duh sedih ya bila melihat laut dan pantai indah kita tercemar dan perlahan namun pasti akan kehilangan keindahannya..

    Yuk, kita ikut aktif menjaga laut kita..

  4. Aku udah ngerasain banget dampaknya mbak. Di Pekalongan, banjir Rob benar2 sudah jadi makanan tahunan bagi masyarakat pesisir. Nah, kebetulan rumahku dekat dengan pesisir pantai

  5. Iyah nih, gili labak lagi hiets banget wisatanya, banyak yg ngajakin ke sana.. sebagus itu yah kak, bisa buat nginep or ngecamp juga ga yah?

  6. pengen ke madura untuk liat laut indahnya deh mb, sebelum ke sana bantu jaga kebersihan laut madura ya
    hal paling mudah yang bisa kita lakukan sebagai pengunjung tentu saja tidak buang sampah sembarangan

  7. Aku suka pantai. Tapi pas ketemu sampah banyak banget, rasanya mau marah, tapi pada siapa? Jadilah yakinin diri sendiri but gak buang sampah sembarangan dan tetap jaga alam

  8. Baca ini sedih sekaligus marah sih sama orang-orang yang nggak bertanggungjawab suka buang-buang sampah seenaknya. Gatau kesadarannya pada di mana. Semoga pasca pandemi ini bisa bersih lagi dan bebenah dulu buat siapin protokol kesehatan lebih ketat ya. Gili Labak masuk ke wishlist destinasiku juga buat piknik.

  9. bener banget kita harus bisa menjaga laut kita karena kalau nggak siapa lagi yang menjaganya apalagi laut kita banyak tercemar sampah dan yang pastinya akan berdampak

  10. Iyo Mbaaa, di masa pandemi ini selalu ada hal baik dan buruk ya.
    Kondisi alam jadi relatif membaik, karena (relatif)minim polusi
    Tapi yaaa kondisi ekonomi acakadut amburadul kabeh

  11. Sedih banget dengan kenyataan di laut kita banyak sampahnya. Tapi bisa jadi itu karena perilaku saya sendiri. Selama ini sudah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, kalau belanja bawa kantong sendiri, ke mana-mana bawa botol minum sendiri juga. Tapi pasti masih ada saja penggunaan plastik yang tak terduga. Semoga makin hari makin berkurang lagi dan laut makin bersih.

  12. huaaaaaaaaaaa pengen nangis aku tuh tiap liat laut ada sampahnya. butuh kesadaran tinggi dari masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan. pengen marah kalau liat orang buang sampah sembarangan. mungkin saatnya kita juga galak berani menegur ya.

    1. Sama mba, keseeell banget rasanya kalau melihat orang yang tidak peduli pada lingkungan. Sekadar buang sampah pada tempatnya aja loh kok ya sulit banget ya. Semoga saja hal ini segera berakhir dan masyarakat makin menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

  13. Semakin menumpuk sampah di laut kalau tidak dibersihkan maka entah seperti apa masa depan nanti ya. Kuy kita bergerak bersama melestarikan laut kita

  14. Memang masalah terbesar wisata pantai atau wisata laut itu adalah ulah manusia sendiri, Mbak. membuang sampah sembarangan, akhirnya saat laut pasang, sampah itu dikembalikan laut ke kita. Terus kadang merusak terumbu karang, mengambil ikan hias dan sebagainya.
    Padahal alam memberikan banyak manfaat bagi kita. Kalau alam sudah marah, kita juga yang kena. Jadi intinya, kita semua harus menjaga lingkungan laut, agar bisa dinikmati terus oleh anak cucu kita.

  15. Ikutan sedih tau cerita tentang sampah, sampai menyeberang ke pulau gitu yaaa… Tapi memang masyarakat kita banyak banget yang nggak sadar diri dengan buang sampah seenaknya. Saya sempat shock lihat sungai kecil dekat rumah isinya popok bayi juga mbak, bisanya mereka buang sembarangan begitu.

  16. Betul, Mbak. Untuk menjaga kelestarian laut itu harus dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga. Dari yang kecil tapi konsisten. Semoga kondisi laut tetap baik setelah pandemi berakhir.

  17. Pandemi jadi momen untuk bumi menyembuhkan diri, maka setelahnya kita mesti sadar diri dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya, terkait segala hal yang merusaknya. Memang menjaga laut ini adalah tantangan tersendiri, tapi dimulai diri sendiri, bersam-sama kita pasti bisa melakukannya

  18. Kadang memang suka miris kalau lihat laut yang berserakan isinya sampah. Dan perlu sadar diri dari kita semua agar tidak membuang sampah sembarangan di manapun.

    Dan di saat pademi begini, jarang orang yang ke pantai. Laut jadi seperti berbenah untuk mempercantik dirinya karena sampah sangat minim.

  19. Aku kangeeeenn nyemplung ke laut. Indahnya bawah laut Indonesia tapiiii sampahnya itu loh. Plastik lah, botol lah, popok bayi, hiiii… parah deh. Entah ini siapa yang buang sembarangan.

  20. Jaga laut dimulai dari diri sendiri, yes setuju banget kak.
    Karena kalau bukan dari diri sendiri siapa lagi yang akan menjaga keberlangsungan ekosistem yang ada di laut, karena masih banyak sekali sampah yang aku temui saat liburan ke pantai jauh sebelum pandemi covid-19 ini.

    Sampah atau limbah yang dijumpai pun beragam, mulai plastik,botol, bekas popok bayi,dan masih banyak lagi.
    Miris memang liatnya, tapi semoga kita tak menutup mata perihal ini

  21. Artinya “Gili” itu apa yaa, kak Di?
    Aku pikir awalnya yang punya Gili hanya Lombok, ternyata di Madura juga ada.
    Dan mashaAllah~
    Keindahan alam Indonesia masih sangat alami dan sedihnya sampah mewarnai daratannya juga lautannya.

    Jangan sampai kita mewarisi sampah ke anak cucu kita niih…

  22. Tidak hanya laut, sungai juga…di desa dekat tempat tinggal saya, sungai jadi tempat hangout, tapi sayangnya masih banyak yang buang sampah sembarangan…

  23. Salah satu penyebab pencemaran air laut adalah sampah-sampah plastik. Kasihan ya, penghuni laut seperti ikan dan tanaman laut, makanya kita wajib menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan

  24. Inilah mengapa aku dulu suka pakein popok cuci ulang meski agak repot, karena khawatir sampahnya gak terkendali. Semoga makin banyak masyarakat yg menjaga lingkungannya terutama di kawasan laut

  25. Itu sampah dari laut darimana? Ya ampun. Makanya pantai perlu adanya kantong sampah/ plastik sampah agar mudah kita membuang sampah. Semoga suatu saat nanti makin banyak orang yang peduli terhadap sampah

  26. Senang ya bisa main di pantai dengan pemandangan indah tanpa ada sampah, apalagi plastik yang selalu tersebar dimana-mana.

  27. Ternyata pergerakan sampah di laut sebegitu luar biasa ya mba. Bahkan suatu daerah yg kemungkinan tidak membuang sampah ke laut, bisa2 dapet kiriman sampah dari tempat lain.
    Harus dimulai dari diri sendiri nih memang kalau udah bicara tentang mencintai lingkungan.

  28. Memang penting banget Mbak, buat jaga kebersihan. Apalagi di masa pandemi ini. Banyak banget barang sekali pakai, masker contohnya. Nah, itu mesti dipikirin juga tuh kedepannya sampah-sampahnya mau di kemanain. Kalau di daerah pedesaan sih mungkin untuk sampah rumah tangga masih ada solusi untuk mengubur di pekarangan rumah atau di belakang rumah untuk mengurangi sampah biar gak berakhir di TPA ataupun sungai. Dan kesadaran diri juga memang perlu digaungkan untuk orang terdekat kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *