Teknologi Baru Untuk Demam Berdarah

DBD atau demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh salah satu dari empat virus dengue. Demam berdarah merupakan penyakit yang mudah menular. Sarana penularan demam berdarah sendiri berasal dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocipictus. Pernah mengalami infeksi virus dengue sebelumnya, tinggal atau berpergian ke daerah tropis dan kekebalan tubuh yang lemah adalah faktor resiko DBD.

Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk itu dapat menggigit di pagi hari sampai sore menjelang petang. Penularan terjadi saat nyamuk menggigit dan menghisap darah seseorang yang sudah terinfeksi virus dengue dan ketika nyamuk tersebut mengigit orang lain, maka virus akan tersebar. Hal ini terjadi karena nyamuk berperan sebagai medium pembawa virus.

Sumber gambar: kanalkalimantan.com

Penanganan yang tepat dan cepat harus dilakukan ketika pengidap sudah mengalami DBD. Jika tidak segera dilakukan penanganan, maka bisa mengakibatkan gangguan fungsi organ tubuh yang berujung pada kematian. Jika sudah melakukan pencegahan tetapi demam berdarah masih menyerang dan menganggu aktivitas sehari-hari segera kunjungi dokter untuk meminta saran. Penanganan sedini mungkin akan membantu mencegah munculnya masalah-masalah yang lebih parah lagi.

Untuk diagnosis demam berdarah akan dilakukan dengan melakukan pemeriksaan fisik dan wawancara medis. Selain itu, pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah di laboratorium juga harus dilakukan.Pengobatan yang spesifik untuk mengobati demam berdarah saat ini belum ada. Pengobatan bertujuan untuk mengatasi gejala dan mencegah infeksi virus semakin memberat.

Tahukukah kamu ? Singapura menemukan teknologi baru untuk demam berdarah. Para peneliti dari Institute of Bioengineering and Nanotechnology (IBN) mengembangkan sebuah teknologi pemeriksaan berbasis kertas untuk memeriksa air liur. Kertas yang digunakan sekali pakai ini dapat membantu mendeteksi DBD dan diaplikasikan selama 20 menit. Jadi pemeriksaan DBD pun dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan harus melakukan pemeriksaan darah. Teknologi ini sangat bermanfaat untuk dapat membedakan antara infeksi primer dan sekunder. Sehingga pasien yang mengidap sakit ini dapat didiagnosis lebih cepat dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Kecanggihan perangkat berbasis kertas ini adalah dapat mendeteksi IgG, yakni antibody dengue yang umumnya ditemukan pada awal infeksi sekunder dengan pemeriksaan air liur. Tentu tidak menggunakan sembarang kertas. Para peneliti ini menggunakan teknologi desain yang sama seperti yang digunakan pada alat tes kehamilan. Pasien dengan infeksi sekunder lebih berisiko terkena DBD atau dengue shock syndrome.

Bahkan selain DBD, teknologi baru ini pun dapat mendeteksi infeksi virus HIV dan sifilis pada diri seseorang. Uniknya meski menggunakan digagas untuk pemeriksaan air liur, alat ini pun bisa digunakan dengan sampel darah, serum, serta urin dengan hasil yang akurat.Wow. Singapura!

Nah, untuk itu lakukan pencegahan demam berdarah sedini mungkin. Apalagi untuk anak-anak atau orang dewasa yang sudah menurun imunnya karena beresiko tinggi terkena demam berdarah. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk pencegahan antara lain memberantas sarang nyamuk yang dilakukan pengasapan insektisida atau fogging 2 kali dengan jarak 1 minggu, menutup rapat tempat penampungan air, menghentikan kebiasaan menggantung pakaiaan, menggunakan kelambu saat tidur, anak usia 9-16 tahun divaksin dengue sebanyak 3 kali dengan jarak 6 bulan, dan melakukan daur ulang barang bekas yang bisa berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Jadi jangan sepelekan demam berdarah ya.. tetap jaga kebersihan lingkungan!

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *