Tentang Anak Itu, Anak Saya, Anak Kita

Rasanya belum habis tanda tanya saya tentang kejadian seorang anak berseragam lengkap dengan tasnya yang ditemukan tak bernyawa di Tasikmalaya. Belum juga habis rasa nyesek ketika mengetahui ada anak yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Udah ada lagi berita tentang anak-anak..kali ini menjadi pelaku pembunuhan terhadap teman mainnya yang masih balita. Tuhaan…sungguh saya sedih membaca semua ulasan yang ada di berbagai media online dan media social. Buka hanya tentang berita itu sendiri, tapi bagaimana netizen berkomentar.

Saya memang gak mencari info lengkapnya. Rasanya gak sanggup aja membaca detail. Ibu saya yang lebih aktif membaca di berbagai media online dan menceritakannya ke saya. Tentang anak di Tasikmalaya itu..hanya gara-gara minta uang untuk piknik ke bapak kandungnya (yang sudah berpisah dengan ibunya kandungnya).Astaghfirullah hal adzim… Kalau teman-teman mau cari beritanya silahkan..barangkali informasi yang saya terima ini salah.. Saya gak tertarik untuk membaca lebih detail. Takut…ngeri..gak tega..dsj.

Kalau yang mengakhiri hidupnya itu..Gak usah dibahas deh. Semoga anak-anak ini mendapat tempat di surga yang indah dan damai. Siapapun yang pernah menyakiti mereka semoga diampuni segala dosanya..Tetep harus mendoakan yang baik-baik..meskipun sebenarnya ingin berkata kasar dan memaki-maki..Ampuni hamba ya Allah…

Lalu peristiwa terbaru di bulan Maret ini..seorang anak perempuan masih duduk di bangku SMP menjadi pelaku pembunuhan terhadap teman mainnya yang masih balita. Ya Allah…banyak-banyak istighfar deh saya… Di twitter ada yang share wajah anak tersebut tanpa disensor, tanpa disamarkan namanya. Anaknya cantik..memang tak akan menyangka kalau dia sanggup menghabisi nyawa seseorang. Apa pun motifnya ya pasti tidak bisa dibenarkan. Tapi pasti ada penyebab anak ini sampai bisa melakukannya.

Nggak sih..saya gak akan mengulas dari sisi psikologi atau apa pun. Saya hanya berusaha menjadikan semuanya sebagai bahan untuk merefleksi diri. Buat ngaca..Ketiganya..ada kesamaan.  Sama-sama perempuan, sama-sama masih pelajar (ada yang SD ada yang SMP), dannn sama-sama berasal dari keluarga yang ortunya berpisah.  Artinyaaa sama juga donk dengan anak-anak saya..

Berbagai media menyebut mereka ini anak-anak brokenhome. Tapi saya pribadi gak suka dengan sebutan brokenhome. Itu hanya akan membuat psikologis anak-anak semakin tidak nyaman. Dan stigmatif banget. Jadi maunya disebut apa donk?Anak istimewa aja deh… 🙂

Kejadian-kejadian diluar sana..membuat saya semakin yakin untuk memastikan anak-anak saya tidak layak disebut brokenhome meski berasal dari keluarga yang ortunya berpisah dan tidak menerapkan co-parenting. Saya berusaha untuk memberikan perhatian semaksimal yang saya bisa, menjadi teman, menjadi tempat mereka ngomel, curhat, bediskusi tentang berbagai hal, dan menjadi jujukan kalo mereka butuh apa pun. Saya tahu ini gak  mudah. Tapi saya yakin bisa..dan memang harus bisa ya…

Apalagi saya juga merasakan dukungan yang positif dari lingkungan keluarga dan teman. Dan tentu saja dukungan tangan Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang selalu ada untuk saya dan anak-anak.  Ini salah satu kekuatan untuk memastikan masih ada home buat anak-anak saya. Our home isn’t broken kids…we just try to build a better home..

Saya pun berusaha menghapus segala kekhawatiran. Boookk yang keluarganya lengkap aja belum tentu anak-anaknya bener.. Jadi ya saya berkeyakinan bahwa kejadian yang menimpa para remaja putri di luar sana bisa terjadi pada siapa saja. Hmmmm mau menilai pemikiran ini usaha saya untuk menghibur diri..ya gapapa sih terserah aja ..

Meski kelebatan berita-berita itu masih menghantui…bawa istighfar aja…sambil berdoa…Semoga anak-anak kita juga semua anak-anak di luar sana…dijauhkan dari segala marabahaya dan niat jahat…

Khususon buat para ibu tunggal…tetap bersemangat dan berpikir positif. Tugas kita memang gak mudah..belum lagi bagi yang masih berjuang dalam hal financial atau permasalahan pelik lainnya. Semoga Allah SWT selalu melimpahi kita dengan energy ekstra dalam menghadapi semuanya.

 

Sumenep 7 Maret 2020 – 23.52

Malam Minggu, hujan, anak-anak sudah tidur dan saya belum bisa tidur.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *