Berantas Malaria di Papua

Disaat awal musim hujan seperti sekarang ini, saya selalu teringat untuk waspada ancaman penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Yap..penyakit demam berdarah dengue. Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aides aegypti ini mudah sekali menular dan sangat fatal. Awal musim penghujan menjadi waktu yang tinggi sekali resikonya karena banyaknya genangan air yang menjadi sarang nyamuk atau tempat nyamuk bertelur.

Tapi lain di Jawa dan Madura..lain pula di Papua..Ancamannya bukan hanya DBD tapi malaria. Papua menjadi wilayah endemis malaria tertinggi di Indonesia selain Maluku dan Nusa Tenggara Timur NTT. “Sekitar  70 persen kasus penyakit malaria berasal dari Papua” kata Konsultan Entomologi Divisi Penyakit Parasit dan Pusat Malaria untuk Kesehatan Global Unicef, William A. Hawley, PhD, MPH.

Masih menurut William, perilaku nyamuk di Papua berbeda dengan perilaku di Jawa sehingga penyakit malaria di Jawa nyaris tidak ditemukan. Nyamuk di Papua lebih suka darah manusia, tidak mau darah hewan. Jadi inilah penyebab utama tingginya penyakit malaria di Papua. Sebelumnya penyebaran penyakit malaria di Papua ada di 8 kabupaten dalam endemis tertinggi. Tapi setelah dilakukan berbagai program oleh pemerintah setempat penyakut malaria mulai berkurang menjadi 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Jayapura, Keerom, Boven Digoel, Timika dan Kabupaten Sarmi.

Khusus di Timika, kabupaten Papua, penyakit malaria termasuk dalam penyakit nomer satu di semua fasilitas kesehatan di Mimika. Setiap tahun ada lebih dari 80.000 kasus malaria terdiagnosis di Mimika. Bukan angka yang kecil ya temans…

Peran PT Freeport dalam Menanggulangi Malaria

Selain identik dengan malaria, dan memang faktanya angka kejadian malaria tertinggi di Papua adalah daerah ini, Mimika adalah lokasi PT. Freeport Indonesia beroperasi. Karenanya perusahaan tambang ini tidak tinggal diam. Apa saja kontribusi Freeport  untuk masyarakat Papua, khususnya Mimika?

Freeport Indonesia memang menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR) nya di Papua dengan fokus pada 4 bidang, yaitu bidang kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan pengembangan ekonomi. Malaria Center adalah salah satu bentuk konkrit sumbangsih bagi negeri oleh Freeport, melalui Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) di bidang kesehatan. Tim Freeport memiliki area kerja di pinggiran kota dalam urusan penanggulangan malaria. Sementara lembaga lainnya menangani di daerah padat penduduk (dalam kota) dan kawasan pantai.

Sejak tahun 2013 dilakukan program penyemprotan insektisida (Indoor Resedual Spraying) dan pemasangan kelambu oleh tim dari Malaria Center Kota Timika. Program yang bekerjsama dengan WHO ini bukan hanya sekedar memberikan kelambu kepada masyarakat sekitar loh. Tapi juga sekaligus memasangkannya agar tidak disalahgunakan oleh warga. Penggunaan kelambu menjadi penting mengingat nyamuk penyebab malaria biasanya menggigit manusia saat tidur.

Penyemprotan dinding

Selain itu penyemprotan dinding rumah warga juga dianggap efektif untuk melindungi dari gigitan nyamuk malaria. Karena meskipun kelambunya khusus dan sudah diberi insektisida juga, kalau dinding rumah disemprot, nyamuk bisa mati karena sebelum menghisap darah manusia, biasanya nyamuk hinggap di dinding. Sehingga upaya ini efektif melindungi seisi rumah, bukan saja di bagian tempat tidur yang sudah menggunakan kelambu khusus.

Berbagai upaya termasuk penyuluhan dan kunjungan langsung ke warga dan membantu pengobatan di Puskesmas juga masih berlangsung hingga saat ini.

Mengapa penanggulangan malaria ini penting? Karena malaria bisa berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia, yang juga bisa mengakibatkan berbagai masalah sosial, ekonomi. Tentu hal ini berefek domino terhadap ketahanan nasional. Apalagi kelompok yang rentan terhadap serangan malaria ini adalah anak-anak dan ibu hamil.

Usaha keras dan berkelanjutan tentu masih diperlukan. Kontribusi Freeport untuk masyarakat di sekitar perusahaan sangat penting dalam membantu terwujudnya Indonesia bebas Malaria 2030.

Sumber Gambar : ptfi.co.id , hallosehat.com

Sumber informasi : ptfi.co.id, lifestyle.kompas.com, timikaexpress.com

You may also like

16 Comments

  1. Ada teman yang dulu pernah tingga di Papua, cerita kalau pas di sana pernah kena sakit malaria, dan pernah kambuh juga pas pulang ke Jawa. Kasihan… Semoga kelak Indonesia bebas dari malaria. Aamiin

  2. Keren emang program CSR nya Freeport Indonesia. Semoga kontribusinya bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Papua ya kak. Patut dicontoh sama perusahaan lain nih.

  3. Kontribusi Freeport sangat banyak ya di multisektor, mulai dari pendidikan, ekonomi, dan seperti yang Mba Diane tulis, kesehatan. Papua memang masih membutuhkan banyak sekali support dari multipihak untuk kemajuan daerah. Semoga semakin banyak perusahaan seperti Freeport yang konsen ke sini.

  4. Banyak program yang dijalankan PT Freeport dan belum banyak diketahui umum ternyata ya. Semoga lebih merata dan masyarakat Papua semakin sejahtera. Amin

  5. Malaria memang masih menjadi isu penting di Papua, ya. Kuraa ini terkait dengan pendidikan dan sanitasi yang belum memadai. Banyak PR memang yang harus segera diselesaikan.

    Eh Mbak, aku gagal fokus dengan kekhawatiran masyarakat menyalahgunakan kelambu. Selain untuk menghalau nyamuk, apakah pernah kejadian digunakan untuk hal lain gitu? Hihihi …

  6. Iya ya musim penghujan bikin aku semakin waspada kalau ada nyamuk. Nggak mau sampai kena DBD lagi. Ternyata kalau di Papua justru kasus Malaria yang lebih banyak ditemukan ya. Kirain sama DBD juga. Wiih PT Freeport ternyata punya program CSR berupa Malaria Center. Semoga ya tahun 2030 Indonesia bebas Malaria 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *