Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019

Adakah diantara teman-teman yang gampang sekali beli antibiotik untuk mengobati sakitnya? Misalnya flu..batuk yang disebabkan virus..dikasi antibiotik. Kalo ada..mulai sekarang stop ya… 🙂 Karena penyakit yang disebabkan virus tidak bisa diatasi dengan antibiotik. Perilaku yang demikian memang gak sedikit loh..Banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang menggunakan antibiotik tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu.

Padahal penggunaan antibiotik gak bisa sembarangan. Selain tidak membuat penyakit sembuh, penggunaan yang tidak sesuai petunjuk dokter bisa mengakibatkan bakteri semakin resisten. Nah kalo bakteri sudah resisten akan semakin sulit mengatasi penyakit.

Hal ini diungkapkan oleh beberapa nara sumber dalam Seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019 di Gedung Diagnostik Terpadu RSUD Dr. Soetomo Surabaya 30 November 2019. Seminar yang dibuka oleh Dirut RSUD Dr. Soetomo ini menghadirkan 2 nara sumber utama, salah satunya dr.Dominicus Husada Sp.A.

Dokter anak yang juga berpraktek di tempat saya tinggal ini menyampaikan banyak sekali fakta mengejutkan tentang antibiotik. Salah staunya adalah bahwa dalam kurun waktu 30 tahun terakhir tidak ada antibiotik yang benar-benar baru yang  diciptakan. Karena menurut dr. Domi membuat antibiotik tergolong sangat sulit. Sementara bakteri semakin lama semakin berkembang.

Hal ini diperparah dengan penggunaan antibiotik secara serampangan oleh masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang menggunakan antibiotik tanpa resep dokter dan mengkonsumsinya suka-suka. Padahal antiobiotik hanya digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan infeksi bakteri, dan aturan pakainya juga harus sampai habis (sesuai ketentuan dari dokter).

Penggunaan yang tidak sesuai aturan bisa berakibat bakteri menjadi resisten. Kalau bakteri sudah resisten atau kebal, maka penyakit akan semakin sulit diobati.

Ancaman Serius Bakteri Resisten Karena Penyalahgunaan Antibiotik

Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019
Blogger di Seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019

Beberapa bakteri penyebab penyakit pneumonia, gonorea, dan tuberculosis (TBC) diketahui telah mengalami resistensi terhadap antibiotik. Kondisi ini menyebabkan kesulitan dalam terapi penyakit-penyakit tersebut.. Kalau tidak ada tindakan cepat akan membuat kita masuk pada era post-antibiotic, seperti jaman Perang Dunia II. Suatu kondisi dimana tidak ada infeksi yang bisa diobati karena bakteri penyebabnya sudah resisten terhadap antibiotik.

Bahkan pada tahun 2013 saja Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat total kematian sebanyak 700.000 jiwa akibat resistensi terhadap antibiotik. Ditambah lagi Laporan WHO 2014 menunjukkan masih sedikit negara yang mempunyai program pengendalian resistensi antibiotik.

Jika tidak dilakukan pengendalian laju resistensi, maka pada tahun 2050 diperkirakan Anti Microbial Resistance (AMR) akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia. AMR bisa memenciptakan tingkat kematian 10 juta jiwa per tahun. Angka tersebut melampaui angka kematian akibat kanker yang mencapai 8 juta jiwa.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019

Kondisi ini telah disadari dunia kedokteran dan kesehatan. Karenanya WHO menetapkan akhir bulan November (18-24 November) sebagai Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia. Selama kurang lebih sepekan kalangan yang terkait dengan penggunaan antibiotic (dokter dan apoeker) menyerukan kampanye global untuk meningkatkan kesadaran publik akan resistensi antibiotik dan pemahaman lebih jauh lagi tentang resistensi itu sendiri.

Banyak langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah resistensi ini diantaranya menggunakan antibiotik hanya jika terinfeksi bakteri, memperoleh antibiotik hanya dari fasilitas pelayanan kefarmasian yang resmi (apotek, klinik, puskesmas, rumah sakit). Selain itu harus menggunakan antibiotik dengan dosis yang tepat, dan tidak menggunakan antibiotik pada kasus yang tidak perlu, seperti infeksi virus, infeksi jamur dan penyakit noninfeksi lainnya.

Sementara WHO juga mengeluarkan pedoman beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah resistensi antibiotik, diantaranya :

  • hanya menggunakan antibiotik berdasarkan resep dokter,
  • minum antibiotik sampai habis meskipun sebelum habis sudah merasa sehat,
  • jangan pernah menggunakan antibiotik sisa,
  • jangan pernah berbagi antibiotic
  • mencegah terjadinya infeksi dengan cara mencuci tangan,
  • hindari kontak dengan orang sakit
  • lakukan vaksinasi ulangan (vaksinasi dewasa).

Selain pedoman tersebut kita bisa mencegah terjadinya infeksi dengan meningkatkan daya tahan tubuh, menerapkan pola hidup sehat.

You may also like

27 Comments

  1. Jadi inget jaman aku masih sekolah dulu tu umum banget deh orang sakit dikit pake antibiotik. Batuk dikit, antibiotik. Sakit gigi, antibiotik. Padahal kalau resisten malah bahaya ya

  2. Antibiotik ini berbahaya sekali ya mba. Terkadang sedihnya itu ada juga oknum dokter yang kasih antibiotik padahal cuma flu karena virus. Semoga dengan acara dan tulisan ini semakin banyak yang teredukasi dan gunakan antibiotik dengan bijak ya

  3. Nah ini masih selalu ada dalam benak saya juga Diane
    dokternya anak anak selalu meresepkan antibiotik, hingga pernah saya tanya, tapi ya gitu, pada saat si kecil asmanya kumat, yang menolong dengan cepat itu ya pake antibiotik katanya

    untuk saat ini, saya memilih untuk memberinya madu dan vitamin C dosis tinggi

  4. Tetap harus pantau ya mba penggunaan antibiotik ini. Kadang bbrp dokter juga suka kasih ini walau ga dibutuhkan. (Pengalaman pribadi).
    Taunya krn cek ke dokter lain, hehehe..

    Intinya kita sebagai orang awam juga harus mau belajar supaya penggunaan antibiotik harus tepat

  5. Nah kan banyak acara lagi yang lepas dari genggaman hehehe sehingga belum bisa ikutan. Apalagi ini soal antibiotik yang tidak pernah lepas dari mamak dengan dua balita inj

  6. Nah iniii yang sering nggak diperhatikan masyarakat tentang peredaran antibiotik. Pernah suatu hari saya sakit dan disarankan buat langsung pake antibiotik. Padahal sakitnya karena virus, bukan karena bakteri. Bahkan tenaga medis pun ada yang masih belum aware kalau antibiotik hanya diberikan pada kondisi medis tertentu yg disebabkan bakteri. Semoga event ini bisa lebih sering diadakan buat makin mengedukasi masyarakat juga 😀

  7. Aku sekarang kalau gak pakai resep dokter ya gak minum obat, apalagi aku rentan kena flu. Takutnya nanti Bakteri Resisten gitu. Jadi langkah pertama pasti pakai bahan alami. Kalau serius, baru deh ke dokter

  8. Saya nggak berani pakai antibiotik tanpa resep dokter mbak. Takut resikonya. Memang antibiotik ini harus dengan resep dokter ya. Kalau nggak malah jadi resisten

  9. Nah, aku seneng nih sama dokter yang ga dikit2 ngasih antibiotik. Padahal kan antibiotik itu ya kenapa namanya antibiotik, fungsinya cuma membunuh bakteri, bukan virus. Semoga semakin banyak warga Indonesia yang sadar tentang ini.

  10. Biasanya memang pengobatan menggunakan antibiotik ini mesti godaannya, “Eh…kan uda enakan badannya yaa…minum obatnya di sudahi aah…”
    Padahal uda jelas-jelas tulisannya “Minum sampai habis.”

    Hihii…ini penyakit aku juga kalo pas dapet resepnya antibiotik.
    Suka lupa diri…

  11. Bukankah sekarang antibiotik sudah ngga boleh dibeli dengan bebas, mbak? Termasuk obat batuk berdosis besar.
    Di sini, udah ada larangan tidak tertulis soal ini. Jd org apotek pasti nolak kalau ada yg beli antibiotik.

  12. Ini salah satu faktor yang aku jadikan acuan ketika memilih dokter anak untuk krucils. Aku bener2 cari dokter yang gak gampang kasih obat apalagi antibiotik. Alhamdulillah ketemu dan sampai sekarang aku masih setia sama dokter itu.

  13. Serem bagian ini euy

    Jika tidak dilakukan pengendalian laju resistensi, maka pada tahun 2050 diperkirakan Anti Microbial Resistance (AMR) akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia

    Susahnya, masih ada dokter yang suka kasih antibiotik ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *