Menjaga Pola Hidup Sehat Sejak Dini

Dalam sebuah kesempatan, saya menonton video tentang perkembangan terbaru Arya, seorang anak yang mengalami obesitas dan menjalani terapi untuk mengurangi berat badannya. Lalu terbersit ide untuk memperlihatkan video tersebut ke 2 anak saya, Nares dan Kinar. Tujuannya sederhana aja sih…mereka bisa melihat sendiri bukti nyata akibat pola makan yang tidak sehat.

Kenapa saya merasa perlu mengajak mereka nonton video tentang Arya?Karena terus terang saya agak kesulitan membiasakan anak-anak makan buah sayur. Anak-anak juga sempat sulit dicegah untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi mie instant dan minuman kemasan berperisa. Dari video itu mereka kan bisa lihat sendiri betapa Arya jadi punya berat badan sangat berlebih untuk usianya, dan meskipun bisa turun setelah dioperasi tetap masih memerlukan proses panjang.

Alhamdulillah sih anak-anak sepertinya agak ngeh. Mereka manggut-manggut dan antusias. Saya sendiri senang melihat mereka banyak bertanya tentang kasus Arya. Meskipun ya ada sedikit kekecewaan di wajah mereka, membayangkan pembatasan mengkonsumsi makanan dan minuman tak sehat..hahah..Gapapa nak..Demi kesehatan kalian..ibuk tegaaa.

Ya pelajaran yang saya petik juga adalah jadi ortu harus tega. Tega berkata tidak ketika anak-anak minta makanan yang tidak sehat.

“Umiiikk aku mau mie instant”

“Nggak…bolehnya sebulan sekali”

Dan yaa…yang berat adalah konsisten terhadap aturan yang ibuk buat sendiri 😀

Memenuhi Gizi Seimbang Sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan

Menjaga kesehatan anak-anak adalah tugas utama saya. Sejak mereka masih melungker dalam rahim. Yes…sejak 1000 hari pertama kehidupan Alhamdulillah saya bener-bener  menjaga segala yang saya konsumsi. Apalagi saya beruntung tidak mengalami mual parah, justru dikaruniai enak makan apa saja. Jadi bisa dibayangkan ya…saya bebas makan apapun. Vitamin, susu, karbohidrat, sayur, buah, ikan, semua masuk deh.. Meskipun yaa dampaknya adalah kenaikan berat badan yang lumayan signifikan. Hahay.

Tapi saya tidak khawatir karena rutin melakukan pemeriksaan, dan dokter pun tidak mendeteksi adanya gangguan atau kelainan..Alhamdulillah…

Urusan makanan, sejak masa MPASI (usia 6 bulan keatas) saya juga berusaha untuk mengolah sendiri semua makanan anak-anak. Wah..mungkin dasarnya saya suka bereksperimen olahan MPASI ya..makanan anak-anak waktu itu variasinya macam-macam.  Sayur apa aja saya olah..buncis, wortel, brokoli, bayam hijau, bayam merah, kacang-kacangan. Untuk lauknya saya juga pakai aneka protein hewani dan nabati. Daging ayam, daging sapi, tahu, tempe, ikan. Sumber karbohidratnya saya pakai nasi putih,nasi merah, kentang, labu, jagung, dan ubi.

Khusus untuk pemberian protein saya lakukan bertahap. Untuk protein nabati sudah saya berikan sejak 6-8 bulan. Baru setelah usia 8 bulan keatas saya berikan protein hewani. Semua makanan untuk anak-anak saya olah dengan cara direbus atau dikukus, baru kemudian dihaluskan (diblender). Saya bersyukur juga sih..anak-anak waktu itu doyan makan. Jadi jarang sekali makan berlama-lama dan gak pake drama harus keliling komplek 😀

Ohiya..tak lupa juga saya beri asupan buah. Buah ini tadinya yang saya pakai untuk mengenalkan makanan padat, sebelum makan sayur dan lauk. Pisang dan pepaya adalah buah pertama yang saya kenalkan. Selain gampang didapat, tinggal dikerok aja udah bisa langsung  diberikan ke anak-anak. Saya jarang sih memberikan buah dalam bentuk jus..Jadi seringnya ya dikerok atau dijadikan finger food.

Ada masa-masa anak-anak jadi pilih-pilih makanan ya..Biasanya usia 2-5 tahun. Tapi ya tetap harus diusahakan agar anak-anak dapet asupan yang lengkap meski dalam porsi yang tidak banyak. Gak harus dipaksa..Ibuk yang harus kreatif  dalam mengolah makanan biar anak-anak tetap suka makan sayur dan buah. Kalau dipaksa ntar malah anak jadi trauma dan semakin gak suka sayur, buah, dan lauknya. Ya emang harus sabar sih…

Kenapa saya ‘kerja keras’ memberikan nutrisi yang baik untuk anak-anak mulai mereka belum lahir?Karena berusaha mencegah dan mengindari stunting..Tahu donk ya..stunting..kondisi gagal tumbuh pada anak. Hasil Pemantauan  Status Gizi 2017 (Kemenkes RI) menyebutkan prevalensi balita stunting di Indonesia masih tinggi, yaitu 29,6%. Angka tersebut di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%).

Ciri yang paling mudah sih anak tumbuh kerdil yang diikuti dengan kegagalan perkembangan otaknya. Stunting diakibatkan anak kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan.. Efek stunting jangka panjang banget nih..

Sumber : sehatnegeriku.kemenkes.go.id

Pola Hidup Sehat di Usia Sekolah

Nah memasuki usia sekolah TK dan SD..tantangannya beda lagi ya.. Anak-anak mulai kenal jajanan.. Snack dengan MSG, es krim dengan gulanya yang gak sedikit, minuman bersoda, permen..daann mie instant..Hiyaaa…godaan semuaaa. Ujian banget memang..membatasi macam-macam jajanan ini. Apalagi kalau lingkungan sekitar..anak-anaknya bebas jajan.

Bekal Sekolah : Nasi, Eggroll Sayur, Buah Melon

Seperti biasa..tugas ibu atau anggota keluarga lainnya donk ya yang harus kuat iman agar anak gak jajan berlebihan. Sangat dibatasi. Sebagai gantinya ..ibu lah yang harus rajin membuatkan anak-anak snack olahan sendiri. Ya agar makanan anak-anak lebih terkontrol, gak biasa jajan, lebih hemat juga kan.

Salah satu tips penting agar anak tak terlalu banyak jajan adalah membiasakan anak sarapan. Saya sendiri sudah membiasakan anak-anak sarapan sejak bayi. Ya..Nares dan Kinar waktu bayi jam 7 pagi udah selesai mandi dan siap makan pagi olahan ibuknya. Alhamdulillah berlaku sampai sekarang (Nares kelas 1 SMP dan Kinar kelas 5 SD).

Kebetulan saya mengenal salah seorang nutrisionis dari RSUD Moh.Anwar Sumenep, Noeryda Pramudyta , S.Gz. Saya sering berkonsultasi masalah gizi anak ke mbak Dyta ini. Menurutnya penting banget memberikan asupan gizi seimbang pada anak, termasuk saat sarapan. Karena katanya sarapan (terutama pada hari efektif sekolah) merupakan supply energy untuk anak-anak. Porsinya gak perlu terlalu besar, yang penting memenuhi pola gizi seimbang itu tadi..ada karbohidrat, protein, sayur, dan buah.

Ya..sekali makan memang harus beragam. Karena tidak ada jenis makanan yang mengandung semua jenis gizi sekaligus. Jadi saya selalu berusaha menyajikan makanan yang tidak hanya karbohidrat. Misal dalam satu piring, bisa dibuat semacam irisan. Separuh bagian piring diisi sayur dan buah, separuh bagian lagi dibagi 2 masing-masing berisi karbohidrat dan protein.

Piring Makanku, saran penyajian makanan utama.

Ohiya mbak Dyta juga mengingatkan kalau konsumsi air putih yang cukup juga sangat penting loh..Jadi anak-anak pun punya standart konsumsi minimal air putih dalam sehari 5-8 gelas. Air putih yaaaa …gak pake tambahan gula..apalagi teh atau kopi… 😀 Tahu donk ya manfaat air putih besar banget buat tubuh, termasuk tubuh anak-anak. Karenanya selain konsumsi air putih yang cukup selama di rumah, saat bepergian anak-anak juga wajib bawa air sendiri. Ke sekolah, ke rumah teman, apalagi kalau latihan renang.

Aktif berenang dan bonus prestasi

Eh ngomong-ngomong tentang renang nih…Nares dan Kinar juga saya wajibkan aktif berloahraga. Alhamdulillah mereka memilih renang untuk olahraga rutinnya.  Mereka renang 2-3 kali dalam seminggu plus 1 kali latihan  fisik darat. Awalnya ya hanya buat senang-senang aja, yang penting bisa renang. Eh lama-lama..semakin serius latihannya dan ikut berbagai kompetisi. Saya sendiri salut dengan semangat anak-anak berenang, mengingat..saya sendiri gak bisa renang 😀

Punya pengalaman bagaimana menjaga pola hidup sejak dini juga?Yuk share pengalaman di komentar..Siapa tahu bisa menginspirasi pembaca juga kan… 😉

Semangat Hidup Sehat!

 

You may also like

23 Comments

  1. mie instan itu godaan banget ya 🙁
    etapi bersyukur anakku yg no 2, yg paling manika mie instan, justru skr stop makan mie instan krna di pesantren dibilangin kalo mie instan itu candu n ga baik buat kesehatan 🙂

  2. Aku dulu pernah menerapkan pola hidup sehat, diet dan olahraga. Berat badan pun turun sampai 12 kg dalam 2 bulan. Namun, banyak godaan, akupun gak kuat. Kini badanku melar lagi, oh….mau olahraga sudah males…oh…. jadilah diriku skrg bengkak lagi

  3. Anak tetangga saya sampai ada yang harus dioperasi lututnya karena kelebihan berat badan. Jadi, gak cukup hanya dengan menurunkan BB.

    Kalau untuk konsumsi sehari-hari, saya lumayan disiplin ke anak-anak sejak kecil. Cuma sekarang agak kurang olahraga aja. Dulu ‘kan mereka ikut Taekwondo. Sejak pindah belum ada club yang dekat rumah. Kolam renang juga jauh

  4. Kebiasaan makan sehat emang kudu dilakukan sejak dini dan konsisten, aku pun ke anakku nerapin pola makan sehat tapi kadang ku kasih makanan instan juga hahaha,,, ya pokoknya di jaga dikit2,, bisa beli sayur organik ya beli, kal engga ya seadanya di pasar

  5. Ini asli jadi pe-er untuk semua mama, ya. Gimana menjaga pola hidup sehat di keluarga. Kalau saya suka menyiasati buah-buahan itu di camilan, suka dicampur gitu jadi membiasakan anak dengan sayur. Dan tantangan berat juga itu mengurangi es krim 😀 salah satu cara ya bikin sendiri kadang dari yogurt atau susu.

  6. Kalau saya lebih sering ngajak anak² joging agar terbiasa berolahraga. Paling tidak seminggu sekali lah. Harapannya sih melihat saya yg rutin joging mereka juga meniru. Hehe

  7. Pola hidup sehat ini memang mindset juga ya Diane. Anak anak aku bolehkan makan jajan bebas di Sabtu Minggu karena mereka juga harus tau bahwa ada jajanan sejenis itu di dunia. Sambil ditekankan, bahwa jajanan ini ga sehat bla bla bla.

    Sayur buah itu menu wajib ada setiap hari. Kadang cuman beli rujak buah aja sih tapi lumayan buat ganjal kebutuhan gizi.

    Olahraga ga terlalu worry soalnya kan di sekolah mereka dijejalin menu olahraga hehehhehe

  8. Beneran lho mak, yang paling sulit itu sebenarnya bukan si anaknya, tapi si emaknya. Sering aku tuh ga konsisten atas apa yang aku terapkan untuk anak-anakku. Hihihi.

  9. Aku lihat foto nanas kok langsung lancar saliva ku…
    Hahha…suka banget sama buah, tapi sama kak…anak-anakku ga suka.
    Huhuu~
    Walau di jus juga…masih belum bisa dipaksa.

  10. Untuk memutus “ketergantungan” sama mie instans ini dulu aku bener2 gak menyediakan sama sekali di rumah dan selama 1 tahun beneran gak boleh makan mie sama sekali. Padahal sebelumnya tiap hari ada aja yg bikin mie di rumah. Akhirnya eetelah 1 tahun, pas makan lagi, masih enak sih hahaha tapi udah gak bisa lagi banyak2 dan sering2. Sekarang dalam sebulan belum tentu makan mie instan, malah bisa sampai 2 atau 3 bulan lagi baru kepengenan. Memang ya kalau mau mngubah pola hidup mesti konsisten dan komitmen banget nget ngeeet

  11. Selain pola hidup sehat, klo aku juga kasih tau konsekuensi klo makan ngga sehat. Misalnya kalo kebanyakan coklat dan permen nanti konsekuensinya blablabla jadi biar anakku tau juga sebab akibatnya, hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *