Film Dokumenter Sexy Killer

Film Dokumenter Sexy Killer

Ada yang udah nonton film Sexy Killer? Gak perlu donlod ini itu kok…tinggal klik link di Youtube ajah. Hehehe..Itulah kenapa akhirnya saya ikutan nonton. Malam hari setelah anak-anak tidur. Eh kenapa gitu tunggu anak-anak tidur?Hehehe ya karena berdasarkan komentar di update-an di  wall FB sang Director film ini banyak yang menyebutkan bagian awalnya nyerempet-nyerempet adegan dewasa.

Well…gemana jalannya film?

Sebelum cerita tentang film..saya inget Ekspedisi yang dilakukan mereka beberapa tahun lalu. Sedikit saja mengikuti dari wall FB Mas Dhandy. Juga dari media social teman-teman jurnalis lainnya waktu itu. Film yang berhubungan dengan ekspedisi bersepeda motor keliling Indonesia ini bukan Cuma Sexy Killer. Tapi yang rame sepertinya hanya Sexy Killer ya?

Kok Bisa?

Ya karena momentnya teppa’ rapa’ kalau orang Madura bilang. Pas banget. Beberapa hari sebelum Pemilu 2019, dalam hari tenang. Apalagi ada yang share link ke grup-grup WA. Yup dalam hitungan 1-2 hari saja setelah film itu dipublish di You Tube, 6 juta lebih sudah film itu ditonton, dan subscribernya juga bertambah ratusan ribu dalam sekejap (view dan subscribernya bergerak terus euy) 😀 .

Ya..film ini bercerita tentang tambang batu bara. Mungkin akan terkesan biasa aja kalau tidak dikaitkan dengan pilpres dan kepemilikan saham perusahaan-perusahaan tambang dan pembangkit listrik (tenaga uap).

Bagian awal film berupa adegan sepasang manusia (gak tau ini emang suami istri atau gemana..hahaha..penting gituh dibahas?) di kamar hotel. Lampu temaram, televisi, AC, kulkas, hairdryer, colokan listrik yang dipake ngecharge..semua disorot satu-satu dengan keterangan jumlah listrik yang dipakai alat-alat itu. Saya mak cleguk nih pas disini..Untuk sekamar segitu aja udah berapa ratus watt dipakai. Belum kamar sebelah..belum lobi..resto..kolam renang. 1 hotel aja udah berapa watt. Belum di sebelah hotel, sebelahnya lagi..sebelahnya lagi. Salah satu gak fungsi aja pasti pelanggan komplen kan?Apalagi AC dengan 350 watt misalnya yang gak berfungsi. Wuhuuu…bisa langsung diblacklist hotelnya dan bhayyy rating 5 bintang..haha map kalo lebay.

Film Dokumenter Sexy Killer

Lalu bergeraklah film tersebut ke tanah Borneo dengan aktifitas tambang batu bara yang begitu besar..Berikut korban-korban dampak pertambangan. Bukan hanya korban lingkungan..tapi juga korban nyawa karena banyak anak-anak yang kehilangan nyawa terperosok ke lubang bekas tambang yang sudah berisi air.

Hal ini terjadi karena lokasi tambang yang terlalu dekat dengan kawasan pemukiman. Jadi anak-anak dengan mudahnya menjangkau lubang bekas tambang yang dalamnya bisa puluhan meter. Selain itu rumah-rumah di sekitar tambang juga jadi retak bahkan ambruk.

Ada cuplikan wawancara dengan Gubernur lokasi tambang berada..yang komentarnya memang menyebalkan. Ditambah lagi komentarnya disambut tawa orang-orang di sekitarnya. Huufffttt…

Dalam film berdurasi 1 jam an tersebut juga bisa kita lihat kebutuhan Indonesia terhadap batu bara sangat tinggi. Terutama untuk ,memenuhi pasokan listrik di seantero nusantara. Pembangkit listrik tenaga uap (dengan bahan bakar batu bara) adalah pilihan termurah dan termudah (setidaknya untuk saat ini). Gas?lebih mahal…meskipun cadangan gas kita lebih banyak dibanding cadangan batu bara. Apalagi energy matahari..mahillll. Dan energy yang dihasilkan tak sebesar tenaga uap batubara.

Jadi inget deh..teriakan rang-orang di medsos yang gak terima listrik mahal. Mennn…Listrik dari batu bara yang paling murah aja kek gitu protesnya…apalagi energy lain yang biayanya bisa 2-3 kali lipat listrik energy batu bara…

Baca Juga Ya… : Blogger Day 2019

Pembangunan PLTU di beberapa daerah menjadi solusi kebutuhan listrik Negara. Meskipun kenyataannya PLTU juga berdampak negative bagi lingkungan di sekitarnya. Film ini juga menyajikan berbagai korban PLTU juga penolakan warga sekitar PLTU. Bagaimana PLTU menghasilkan polusi yang bisa menimbulkan berbagai penyakit, salah satunya kanker. Juga korban penolakan PLTU yang sampai dipenjara pada tahun 2005.

Film ini kemudian menyajikan berbagai cuplikan debat capres. Sangat kekinian. Saya tadinya berpikir film ini hanya berisi seputar ekspedisi biru saja. Ternyata nggak.

Menjelang akhir ditampilkan kepemilikan perusahaan tambang di Indonesia. Dan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya yang saling berkaitan. Termasuk perusahaan Rakabu milik Joko Widodo (juga Kaesang dan Gibran). Perusahaan tersebut tidak hanya bergerak di bidang furniture/meubel. Tapi ada beberapa bidang usaha, seperti property, konstruksi, real estate, pembebasan lahan, pengolahan kayu, dll. Tapi tidak disebutkan kalau perusahaan ini bergerak di bidang energy dan tambang. Dan tidak ada perusahaan lain selain Rakabu yang dimilki keluarga itu (sementara pihak lainnya disebutkan memiliki lebih dari perusahaan di bidang energy dan tambang..belum perusahaan lainnya..).

Film Dokumenter Sexy Killer

Perusahaan milik Jokowi tersebut jadi terkesan berhubungan dengan perusahaan tambang (batu bara) karena sahamnya juga dimiliki LBP. Kemudian berbagai pihak yang ternyata saling berkaitan, baik dari kubu Capres satu dengan capres dua (entah kenapa jadi bermuatan capres ya endingnya..).

Membaca berbagai komentar di medsos tentang film ini…saya berpendapat ya lagi-lagi tergantung bagaimana kita melihatnya. Saya menonton film ini bukan dari link yang tersebar di grup WA. Tapi dari wall FB mas Dhandy nya. Gak ada harapan apa-apa saat menontonnya. Mungkin lain cerita kalau menontonnya berangkat dari keinginan menemukan sesuatu yang bisa jadi bahan cacian dan hujatan. Dapet bangetlah pastinya di film ini. Solusi ada gak?Maaf saya gak menemukan..atau saya yang terlewat nontonnya? Maklum..nontonnya menjelang tengah malam dan saya lagi mau flu…

Kalao saya pribadi sih tetap menganggap film ini menambah wawasan..iya. Dan yang pasti menambah pikiran untuk berhemat lsitrik. Ya gemana gak mikir begitu..listrik di rumah saya aja kadang lupa matikan kalau lagi gak dipake..tv dibiarin nyala padahal gak ada yang nonton. Apalagi penggunaan listrik di kota besar..untuk penerangan jalan (yang sebagian sudah memakai tenaga matahari), untuk mall, untuk air mancur menari, untuk taman, untuk videotron, untuk papan reklame,ya..intinya untuk seneng-seneng lah…Sementara penduduk di sekitar PLTU tempat listrik dihasilkan..setengah mati menghirup polusi..Sementara penduduk di sekitar tambang..mati-matian menghadapi berbagai dampak lingkungan dan social. Sementara di daerah lainnya lagi..mungkin sekedar menikmati listrik untuk lampu aja masih jadi mimpi.

Mampir Kesini Juga Boleh : Transportasi Umum di Jakarta

Untuk ke pilihan capres..ngefek gak?Hmm…gak lah…tetap profil capres itu sendiri yang jadi acuan saya dalam memilih..

 

 

You may also like

7 Comments

  1. film ini sudah diputar berkali-kali di beberapa komunitas di tempat saya, jauh sebelum hari tenang. Saya bahkan ikut share ajakan nonton, tapi malah nggak bisa ikut nonton. Baru beberapa hari ini di youtube muncul dan saya bersyukur akhirnya bisa ikut nonton.
    Sejujurnya saya senang orang-orang jadi tahu apa yang terjadi di wilayah “kami”. Film dok. seperti ini banyak mba, dan ada juga yg nyebutin pejabat kok (namanya film dok mesti punya data ya kan).

    1. Iya banyak ..dan jadi hits karena bumbu capres…Kalo adegan di awal pengaruh juga gak ya?haha..Btw semoga ada upaya perbaikan lingkungan di daerah bekas tambang baik di kalimantan maupun daerah lainnya..

  2. Sama, mba Di. Daku malah ga kepikiran sampe menjatuhkan ke kubu ini dan itu. Buat saya, malah ini jadi mendatangkan rasa malu. Lahya, ada orang yang kehilangan tempat tinggal dan lahan pekerjaan cuma buat tempat listrik. Lahkok saya masih sering ngeluh pas pemadaman listrik. Masih sering lupa matiin lampu padahal udah siang.

    1. Toss donk Peh… hehe..Di sekitar kita listrik udah buat foya2..buat keperluan tersier sampe level 100. Sementara di sisi lain Indonesia..ahh sudahlah…

Leave a Reply to Ipeh Alena Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *