Gua Mahakarya Giliyang Sumenep

Sumenep Madura sudah sangat terkenal dengan gugusan pulaunya yang mencapai 126 pulau. Setelah Gili Labak, 1 lagi pulau yang bisa menjadi tujuan wisata, yaitu Giliyang. Pernah dengar tentang keistimewaan pulau ini?

Oksigen Tertinggi Kedua Di Dunia

Pulau ini dikabarkan mempunyai kadar oksigen terbaik kedua di dunia setelah Laut Mati di Yordania. Waw..benarkah? Ketika saya bagikan foto dan informasi tentang keistimewaan pulau itu, tak sedikit yang meragukan. Masak iya sih oksigen di Giliyang mengalahkan oksigen di kawasan Tengger yang notabene lebih banyak terdapat pohon-pohon tinggi 🙂 Padahal Giliyang sangat gersang terlebih di saat musim kemarau.

Beberapa nara sumber yang saya tanya tentang kandungan oksigen itu memang membenarkan. Pengukuran dilakukan oleh LAPAN dan Bappeda setempat. Indikasinya adalah udara terasa sejuk terutama di beberapa titik dan di waktu tertentu (musim kemarau saat dini hari).

Seseorang menceritakan juga pernah sakit dan sudah memakai berbagai macam obat. Lalu pekerjaan menuntutnya untuk berkunjung ke Giliyang. Dan sepulang dari pulau itu badannya terasa segar dan keluhan sakit tidak dirasakannya lagi. Eh..saya pun merasakan hal yang sama sih.. Saat mengikuti Famstrip Blogger Nasional Menduniakan Madura dan Melihat jejak BPWS, di hari pertama saya sakit kepala sampai hari kedua sebelum ke Giliyang. Tapi Alhamdulillah..setelah keluar dari Giliyang sakitnya sudah hilang. Obat yang sudah saya beli, gak jadi diminum 🙂 nahh apakah fakta itu berhubungan dengan kualitas udara yang baik di pulau itu?Hmmm…mudah-mudahan sih memang iya 😀

Pulau di Timur Daya kabupaten Sumenep ini biasa diakses dari Pelabuhan Dungkek. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit dengan perahu nelayan bila cuaca sedang bagus. Dari pelabuhan udah keliatan sih pulaunya 🙂 Tapi tetep ya…berasa lama nyebrangnya.

Pelabuhan Benra’as Giliyang Sumenep

Di Giliyang sendiri ada  2 dermaga, yaitu di Bancamara dan Banra’as . Keduanya adalah nama desa disana. Mau berlabuh di pelabuhan yang mana…tergantung cuaca. Saat datang perahu yang saya tumpangi merapat di dermaga Bancamara. Pulangnya naik dari dermaga Banra’as. Mobilitas wisatawan bisa dengan gerobak motor atau dorkas. Untuk naik dorkas ini bayar 125.000 udah bisa keliling kemana-mana. 1 dorkas muatlah untuk sekitar 6-8 orang. Semua jalan utama di Giliyang sudah berpaving, jadi enak untuk dilalui. Etapi kalo ada penyewan sepeda gowes gitu asik kali ya…jadi wisatawan mau kemana-mana ya gowes aja *koyok sing kuat-kuato gowes 😀 😀

Suasana Jalanan di Giliyang

Okelah…mungkin masih ada yang meragukan tentang kualitas oksigen di Giliyang. Bukan berarti lantas Giliyang tidak layak dikunjungi kalaupun kualitas udaranya sama saja dengan pulau lainnya. Karena ada beberapa obyek wisata menarik yang bisa dikunjungi. Apa sajakah Obyek Wisata di Giliyang itu? Ini Salah satunya :

Gua Mahakarya

Di pulau yang luasnya 921.2 Ha ini sebenarnya terdapat beberapa gua. Saya mengunjungi salah satunya, yaitu Gua Mahakarya. Untuk ke gua ini kita harus jalan kaki sekitar 300 meter dari jalan utama di desa Banra’as menyusuri tegalan milik penduduk sekitar. Ada petunjuk jalan yang cukup jelas untuk menuju ke mulut gua. Mulut gua sangat lebar sehingga beberapa orang bisa masuk sekaligus. Tapi kemudian lorong menyempit sehingga pengunjung harus bergiliran masuk ke dalam gua.

Perjalanan ke Gua Mahakarya

 

Perjalanan Ke Gua Mahakarya

 

Memasuki Mulut Gua

 

Di Pintu Masuk Gua (Entrance)

Ada seorang pemandu yang menemani perjalanan kami selama di dalam gua. Luas gua mencapai 800 meter persegi berupa gua horizontal dengan beberapa avent (lubang di atap gua yang tembus ke permukaan) di dalamnya. Karena ada beberapa avent dengan ukuran yang berbeda-beda, maka beberapa lokasi gua tidak gelap total. Lumayan bisa menghirup udara segar 🙂 Atap gua tingginya bervariasi.. dari puluhan meter sampai yang tingginya hanya sekitar 1 meter. Disitulah pengunjung harus merunduk bahkan jongkok untuk melewatinya.

Jalan Jongkok di Gua

 

Suasana di dalam gua

Ornamen (speleothem) yang terdapat dalam Gua Mahakarya antara lain :

Flowstone, ornamen ini membentuk seperti kanopi atau payung dengan ukuran yang bervariasi. Permukaannya ada yang rata ada juga yang bergurat hingga membentuk beberapa lapisan.

Flowstone
Ini Flowstone juga

Stalaktit dan stalakmit, ornamen ini banyak sekali ditemukan di Gua Mahakarya dan masih aktif. Indikasinya adalah air yang menetes dari stalaktit sampai membentuk stalakmit di lantai gua.

Stalakmit di lantai gua, stalaktit di atap gua

Pilar, yaitu ornamen stalaktit dan stalakmit yang menyatu hingga membentuk tiang. Ada beberapa pilar di Gua Mahakarya dengan ukuran yang berbeda-beda.

Ornamen Pilar

Salah satu yang unik adalah ornamen flowstone yang mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda saat diketuk dengan batu. Pemandu menunjukkan pada kami dan bilang kalau yang boleh mengetuk hanya dirinya 😀 saya sih YES.. haha karena kalau sampai setiap pengunjung mengetuk ornamen itu…wahh sayang sekali ornamennya bisa rusak. Dan kalo boleh kasih saran sih…sebaiknya nggak usah diketuk lagi kali ya…sayang banget kalo sampe cuil ato proses pembentukan ornamennya jadi terganggu.


Yup..proses pembentukan ornamen di dalam gua itu butuh proses lama sekali. Ada referensi yang menyebutkan dalam 1 tahun hanya terbentuk sekitar 3 mm saja. Sentuhan tangan yang notabene mengandung keringat atau minyak bisa mengganggu proses pembentukannya. Apalagi kalau sampe mematahkan ornamen..duhhh… Sama persis nih dengan terumbu karang.

Baca : Gili Labak Wisata Bahari di Timur Madura

Nah stalakmit di lantai Gua Mahakarya sangat banyak…jadi kalo seandainya area itu dilokalisir mungkin lebih baik. Karena dengan begitu…stalakmit yang mungkin akan terus bertumbuh tidak akan terganggu apalagi sampe terinjak oleh pengunjung.

Oya..ada beberapa catatan penting sebelum mengeksplorasi gua.. Pastikan memakai alat-alat pengaman ya, minimal pelindung kepala atau helm, alat penerang, dan sepatu. Alat-alat tersebut sesungguhnya wajib digunakan untuk melindungi diri kita sendiri. Misalnya helm..untuk melindungi kepala dari benturan saat kita melewati atap gua yang rendah. Selain itu juga untuk mengantisipasi kalau ada longsoran batuan dari atap gua, seperti di bagian avent yang batunya bisa kapan saja meluncur kedalam gua. Apalagi di Gua Mahakarya, sudah dibuat beberapa undakan tepat di bawah avent yang ada. Undakan itu sengaja dibuat untuk pengunjung yang pengen foto-foto dengan pencahayaan yang memadai.

Salah satu avent dalam gua Mahakarya

Alat penerang tentu saja untuk membantu kita melihat ornamen di dalam gua sekaligus melihat jalan. Alat penerang yang bisa digunakan antara lain senter, headlamp, atau alat penerang portable lainnya (termasuk dari HP). Pastikan alat penerangnya mampu untuk diajak eksplorasi dengan durasi maksimum. Pengalaman saya ke Goa Mahakarya ini, saya gak bawa alat penerang. Jadi saya nebeng ke teman-teman dan tentu saja itu nggak nyaman banget karena pergerakan jadi terbatas.

Alas kaki (sepatu) yang tertutup dan anti licin sangat penting untuk melindungi kaki dari beberapa resiko, seperti tanah yang licin dan gigitan binatang melata. Ya..gua yang lembab dan gelap sangat disukai binatang melata seperti ular, kalajengking, dan sejenisnya. Alas kaki yang biasa dipakai untuk ekplorasi gua adalah sepatu bersol keras, kayak sepatu tentara itu…atau sepatu boot yang biasa dipake ke ladang.

Yang tidak kalah penting adalah membatasi jumlah orang yang masuk ke gua. Bila jumlahnya banyak bisa dibagi dalam beberapa kelompok yang bergiliran masuk gua. Dalam 1 kelompok maksimal berjumlah 10 orang dengan 1 pemandu yang betul-betul menguasai kondisi gua. Hal ini untuk memudahkan pengawasan karena eksplorasi gua beresiko tersesat. Selain itu dengan pembagian kelompok, ekplorasi dan fotografi juga lebih maksimal, mulai masuk mulut gua sampai keluar lagi. Dan sebenarnya no excuse ya untuk urusan safety procedure sekalipun gua yang kita telusuri adalah gua wisata horizontal 🙂

Jangan lupa juga… Take Nothing But Picture, Leave Nothing But Footprint, Kill Nothing But Time…

You may also like

21 Comments

  1. wow goa mahakarya sungguh indah ya. sayangnya masih kurang terawat. mungkin butuh keterlibatan pemerintah / kelompok sadar wisata setempat untuk mengelola sebaik2nya..

    1. Iyes om bud..mungkin karena memang baru dibuka untuk wisata…sangat dibutuhkan pastinya..biar wisatawan lebih merasa aman dan nyaman😊

  2. Pakai helm itu bener banget. Sirahku kedaduk 2 kali ketika di sana hahah. Dan otomatis selama memasuki goa, diriku agak pusing hahahah

    Goanya indah banget. Nunggu dikasih penerangan aja sih. Sama dibuatkan jalan yang harus dilalui. Biar jelas arah berpijaknya. Dikasih pagar juga okay. Apalagi di tempat yg kita gaboleh sentuh.

  3. sempet liat foto-foto giliyang dan gililabak .. mupeeng pingin kesana, kira-kira bulan yang pas untuk berkunjung bulan apa ya? karena kan kendala ombak juga ya

    1. Kalo musim kemarau the best time kyknya..karena arus relatif tenang jadi jernih untuk snorkling..penyebrangan juga anteng 😊 kalo ke giliyang musim hujan kayak gini gak masalah..keren malah karena pulaunya ijo dimana2..😊 penyebrangan juga cuma sebentar cuma 30 menit..meski ombak masih aman dan nyaman..

  4. Aku kemarin sempat ngobrol sama pemilik dan penemu Goa mbak…
    Bener sekali semoga banyak yg peduli Goa ini, dijadikan tempat yang pass dan aman buat wisatawan

  5. asikk. akhirnya tulisan yg di bawah2 membahas dalam ttg susur gua. benar sekali. makanya aku rada khawatir pas masuk semua. pertama, pemandu kemungkinan akan sulit mengawasi wisatawan karena terlalu banyak. dan di sana masih banyak stalatit yg aktip. takutnya kena senggol. kedua, karena kuota. harusnya lbh baik dibatasi, agar tak berebut oksigen.

    btw, aku jadikan referensi nih tulisanmu sebelum aku nulis ttg goa mahakarya. dan sekarang sudah terbit. yuk baca. hihi

    1. Siapppp meluncur… 😊 iya hanif..safety prosedur itu gak bisa ditawar😊 semoga pengelola gua bener-bener menerapkan safety prosedur apapun jenis gua nya..apalagi di giliyang masih ada beberapa gua lainnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *