Famstrip Blogger #Menduniakan Madura

Peringatan! Membaca Postingan Ini Bisa Membuat Kamu Pengen Ke Madura 😀

Madura memang bukan Bali, bukan Lombok, bukan pula Raja Ampat. Tapi bukan berarti Madura tak punya ‘sesuatu’ yang bisa juga dinikmati wisatawan baik lokal maupun mancanegara seperti 3 tempat yang saya sebutkan tadi. Berbagai obyek wisata dan potensi sumberdaya alam banyak tersebar di berbagai sudut pulau Madura. Untuk tahu semua itu..ya harus keliling Madura.

Beruntung saya termasuk salah satu blogger yang diajak Komunitas Blogger Plat-M keliling Madura. Selain untuk mempromosikan wisata Madura, juga untuk melihat Jejak Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) untuk Menduniakan Madura.

Bagaimana saya bisa terpilih?Awalnya baca di grup Arisan Link ada yang membagikan update status Wahyu Alam di wall Facebook. Disana diumumkan bagi blogger yang bersedia ditraktir keliling Madura pada tanggal 22-25 November 2016 silahkan menulis alamat blognya di komentar. Gak pake pikir panjang saya langsung isi donk ya…Lolos atau nggak urusan belakangan, pokok e daftar dulu.

Beberapa hari kemudian Founder Komunitas Blogger Plat-M itu mengumumkan lagi kalau yang lolos sudah dikirimi email. Hmm…padahal kan gak ada permintaan menuliskan email di komentar status sebelumnya…kok bisa tiba-tiba dikirimi email?haha ya bisalah…kan blognya dicek…disitu kan pasti ada kontak email dan lainnya…(makanyaaa…email atau nomer WA atau kontak lainnya penting ditulis di blog kita..). Iyess…dan ternyata ada email dari Wahyu Alam!!! Saya tinggal isi beberapa data lebih detail lewat form dokumen Google sebagai bentuk konfirmasi kesediaan ikut acara berjudul Famtrip Promosi Kawasan Suramadu (KKJSM dan KKM) dan Produk Unggulan Madura Melalui Blog Menduniakan Madura. Heheh panjang ya nama acaranya…Ho’oh..sama panjangnya dengan perjalanan yang bakal ditempuh 40 blogger selama di Madura 😀

Selanjutnya peserta dikumpulkan dalam satu grup WA untuk memudahkan koordinasi. Beberapa kali email juga kami terima untuk keperluan persiapan termasuk penjemputan. Yang dijemput yang dari luar Surabaya dan Madura yaaa…Saya yang dari Sumenep tinggal naik bis…turun depan BPWS..beres.

Perjalanan Dimulai

Hari itu pun tiba…22 November 2016. Saya sampai di BPWS sekitar jam 11 siang, 4 jam perjalanan dari Sumenep. Bis sudah siap di halaman BPWS, beberapa peserta sudah duduk manis di bis dan barang masuk bagasi. Setelah menemui mantan klebun Plat-M Wahyu Alam, saya langsung gabung naik ke bis. Kayaknya sebagian besar udah di dalam bis, hanya beberapa blogger saja yang ikut acara pembukaan di dalam ruang pertemuan BPWS. Etapi turun lagi…karena mau sholat dulu dan foto bareng.

Absen Dulu Ya….

Selesai sholat dan foto bersama…bis pun mulai bergerak keluar BPWS dan masuk ke jembatan Suramadu …jreng…jreng…Perjalanan 4 hari 3 Malam keliling Madura bersama 40 lebih blogger dari berbagai penjuru Nusantara dimulaiii…Rombongan dipimpin sebuah mobil patwal kepolisian dan 3 mobil pribadi…Bismillah…Ini juga pengalaman pertama saya traveling mobile bersama blogger.

Dengan adanya jembatan Suramadu yang diresmikan tahun 2009, menyeberangi Selat Madura tak lagi butuh waktu lama. Tak sampai 10 menit. Sebenarnya gak boleh berhenti di tengah jembatan untuk foto-foto lo..Karena jembatan yang panjangnya sekitar 5 km itu merupakan jalan bebas hambatan. Jadi kalau mau foto-foto..manfaatkan kawasan-kawasan di sekitar kaki jembatan atau area sebelum masuk jembatan.

Baru beberap menit keluar dari jembatan..rombongan mampir ke Kawasan Kaki Jembatan Suramadu yang akan dibangun rest area. Semua rombongan pun turun untuk melihat dan menyimak penjelasan pejabat BPWS tentang rest area itu. Seorang perempuan cantik yang menjabat sebagai Kasubdiv Monev Pembangunan Kawasan BPWS, Fitri Kusumawati, menunjukan area yang nantinya juga akan menjadi pusat pedagang kaki lima. Selama ini para pedagang berjualan di sepanjang jalan akses Suramadu. Harapannya..tahun 2017-2018 sarana rest area udah bisa dipake.

Bloggers di Kawasan Kaki Jembatan Suramadu, Lokasi Rest Area

Perjalanan lalu berlanjut ke kecamatan Klampis kabupaten Bangkalan. Rombongan berhenti di tepi jalan untuk melihat Kawasan Khusus Madura (KKM). Kami gak bisa langsung menuju lokasi KKM karena aksesnya tidak memungkinkan. Jadi ya…dari kejauhan aja liatnya.

Rencana Kawasan Khusus Madura (KKM) kecamatan Klampis kabupaten Bangkalan

Selesai melihat rencana lokasi KKM, rombongan bergerak lagi menuju kabupaten Sampang. Hampir 2 jam perjalanan saya gak bisa tidur. Seperti biasa…saya lebih suka melihat keluar jendela, melihat bagaimana pemandangan sepanjang jalur utara Madura. Maklum, ini pertama kalinya saya menyusuri jalur utara 😀 Well…jalan utara relatif lebih sempit dan tidak semulus jalur selatan. Tapi jalur utara tak seramai jalur selatan. Jadi bisa lebih cepat sih kalo mau ke Sumenep lewat utara 😀 Di kanan kiri jalan pemandangannya pun bervariasi. Meski namanya pantura alias pantai utara, nyaris gak terlihat pantainya..

Menjelang sore akhirnya bis memasuki jalan sempit di kiri jalan utama. Yuhuu…udah sampe aja nih di Pantai Nepa. Semua peserta diminta turun dan membawa barang-barangnya. Owwh..jadi kami menginap di Nepa…eh maksudnya di desa Batioh kecamatan Ketapang kabupaten Sampang 🙂 Sebuah rumah besar di tepi pantai menjadi tempat peristirahatan para blogger di malam pertama.

Menuju Penginapan

 

Gerbang Hutan Kera Nepa Sampang

Sebelum malam tiba kami diajak ke pantai dan ke hutan kera Nepa yang tak jauh dari penginapan. Pengalaman ke Hutan Kera Nepa insyaallah akan diulas tersendiri ya… 😉 Malamnya kami ngobrol santai dengan perangkat desa dan kabupaten Sampang (BAPPEDA) serta pihak BPWS tentang pariwisata dan rencana pengembangan wilayah Batioh.

Hari Kedua

Di hari kedua ini peserta sudah siap sejak pagi. Antri mandi sudah…makan pagi sudah… Perjalanan lumayan panjang karena melintasi   kabupaten Pamekasan dan Sumenep. Sebelum menuju Giliyang, kami akan mampir di 2 tempat yaitu Air Terjun Toroan di kecamatan Ketapang kabupaten Sampang dan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Pasongsongan di kecamatan Pasongsongan kabupaten Sumenep.

Dari penginapan ke air terjun Toroan hanya butuh waktu sekitar 30 menit. Letak air terjun juga di pinggir jalan utama, jadi bis tinggal parkir aja, peserta turun dan jalan kaki sebentar udah bisa liat air terjun terbesar di Madura ini. Ulasannya secara khusus bisa dibaca di : Air Terjun Toroan, Air Terjun Terbesar di Madura

Bloggers di Air Terjun Toroan Sampang

Tak sampai 1 jam di air terjun Toroan, rombongan bergerak lagi ke arah Sumenep. Tak ada kesan lelah di wajah-wajah peserta. Yang kelihatan hanya hepi..hepi..dan hepi… 😀  Untuk mengurangi kejenuhan peserta dihibur dengan karaoke dan sedikit drama. Drama di bis gitu??

Haha iyah..ceritanya panitia ingin mengenalkan secara dramatis tentang carok. Aeehhh acarok e bis? 😀 Jadi panitia mengatur 2 orang panitia beradu mulut di bis dan mengajak carok. Nyaris sukses bikin peserta keder sih 😀 Tapi akhirnya terungkap kalo itu semua cuma rekayasa dan panitia kemudian menjelaskan beberapa hal terkait carok di Madura. Essiiippp kawan… 😀

Sekitar 1,5 jam setelah drama carok itu, bis akhirnya sampai di PPI Pasongsongan. Ahhhh saya udah lama gak kesini. Banyak juga perubahannya. Semakin ramai dan fasilitas untuk nelayan juga lengkap. Nelayan juga masih banyak yang bongkar muat di dermaga dan pedagang ikan masih ramai bertransaksi di sekitar dermaga.

PPI Pasongsongan

Karena mengejar waktu makan siang di Giliyang, kami gak berlama-lama di PPI. Lanjut lagiiiii….Pasongsongan-Dungkek hehehe..dari ujung ke ujung. Perjalanan hari kedua ini kami ditemani guyuran hujan. Sampai di pelabuhan Dungkek masih gerimis dan kami harus bongkar koper masing-masing dulu. Karena semua peserta hanya boleh membawa perlengkapan seperlunya dan sebagian barang ditinggal di bis yang diparkir di sekitar pelabuhan Dungkek.

Kami akan menuju pulau yang istimewa. Oksigen di pulau ini diklaim terbaik kedua di dunia setelah Laut Mati di Yordania. Meski banyak yang mempertanyakan, tapi berbagai nara sumber menyebutkan hal itu benar adanya. LAPAN dan Bappeda Sumenep pernah mengadakan penelitian  tentang keberadaan oksigen di pulau tersebut selama beberapa waktu. Well…seandainya keberadaan oksigen yang tinggi di pulau ini diragukan…tetap gak rugi lah ke pulau ini. Karena berbagai obyek wisata tersedia dan siap memanjakan mata.

Naik perahu yang akan membawa bloggers ke Giliyang

Saat menyebrang ke Giliyang dari Pelabuhan Dungkek juga masih rintik-rintik. Tapi alhamdulillah penyeberangan selama 30 menit berjalan lancar. 2 perahu mengantar kami sampai di pelabuhan Bancamara dan sudah ditunggu armada dorkas atau motor gerobak atau odong-odong kalau orang lokal bilang.

Pelabuhan Bancamara

 

Bloggers Naik Odong-odong

Dari pelabuhan kami langsung diantar menuju penginapan. Penginapan yang asri dan nyaman. Penginapan ini salah satu fasilitas yang dibuat oleh BPWS untuk mendukung pariwisata kabupaten Sumenep. Dan ehm…kabarnya penginapan ini adalah salah satu titik lokasi oksigen yang tinggi. Pantes lah hawanya sejuk-sejuk silir gituh 😀

Di Penginapan

Di penginapan kami hanya sekedar naroh barang dan solat, karena kami harus segera bergeser ke rumah tokoh masyarakat Giliyang untuk makan siang. Kalau biasanya sampai di penginapan langsung ngeluarin kabel-kabel dan charger, kali ini tidak 😀 Karena listrik baru tersedia pada jam 18.00-06.00. Jadi setelah mentata barang di penginapan, kami langsung cuzzzz….makan siang.

Ubi Rebus, Gula Aren, dn Legen Hangat Pengantar Makan Siang

Selesai makan siang dan menikmati beberapa makanan dan minuman khas Giliyang, kami sudah ditunggu odong-odong untuk segera berangkat ke Goa Mahakarya. Ini adalah salah satu lokasi wisata yang bisa dikunjungi di Giliyang selain fosil ikan paus, Pantai Ropet, dan Tocangge. Tocangge adalah kepanjangan dari Bato Cangge atau Batu Tiang, sebuah bentukan alam di pinggir pantai yang menyerupai tiang menyangga batu. Tapi karena cuaca hujan…panitia tidak menyarankan ke Tocangge. Ke Goa Mahakrya aja lebih aman. Di Goa Mahakarya peserta mengeksplor keindahan ornamen-ornamen gua yang masih hidup.

Menuju Goa Mahakarya

Agak lama juga peserta menikmati setiap lekukan gua yang disebut juga goa Celeng (babi hutan) itu. Kenapa namanya Gua Celeng?Owhh..ternyata ada ornamen gua yang menyerupai celeng 😀

Sampai menjelang magrib kami baru kembali ke penginapan. Hingga malam menjelang tidur kami manfaatkan untuk ngobrol sesama blogger. Terutama yang blogger perempuan nih… 😀 katanya sihhh pada curhat-curhatan gitu…Kok katanya???Hooh saya melewatkan sesi itu karena habis makan malam di pendopo penginapan gak buru-buru balik ke ruang istirahat, asyik ngobrol tentang youtube. Eh peserta juga sepakat, malam itu adalah malam paling berkesan…karena sesama blogger puas ngobrol dan bertukar ilmu atau bertukar pengalaman (pahit) kehidupan.. Sementara bagi panitia itu adalah malam paling bikin pusing. Hahaha..

Hari Ketiga

Pagi di Giliyang..mendung. Sebelum jam 5 pagi kami sudah dipanggil-panggil panitia…diajakin hunting sunrise sekaligus makan pagi. “Gak usah mandi…mandinya nanti saja…” seru panitia dengan alat pengeras suara. Jadilah kami buru-buru bangun dan bebersih sekedarnya. Minimal cuci muka  dan gosok gigi lah ya…Etapi ada juga yang udah mandi jam 3 dinihari sih…hahaha. Rrruuaaarr Biasaahh..

Emak Bloggers di Depan Penginapan Siap Menuju Pantai Ropet.. 🙂

Yah…karena diwanti-wanti gak perlu mandi dan harus segera ke pantai..ya sudah..pasrah ajalah ke pantai  dengan muka agak bengep dan masih setengah ngantuk 😀 Sambil menikmati angin pagi dari dorkas yang membawa kami..saya menebak-nebak pantainya kayak apa ya kira-kira.

Dorkas berhenti di depan tulisan ‘Fosil Ikan Paus’. Hmmm.. belum ke pantainya nih. Tak jauh dari jalan utama, ada setumpukan tulang belulang yang ditata sedemikian rupa Setelah melihat tumpukan fosil paus di bibir pantai barulah kami bisa melihat keindahan pantai Ropet.

Pantai Ropet Giliyang

Ropet artinya sempit. Memang sempit sih…dan berkarang. Bukan pantai landai berpasir halus seperti kebanyakan pantai-pantai di Sumenep. Tapi tetap unik dan indah untuk dinikmati. Apalagi sambil makan pagi bermandikan cahaya mentari pagi.

Makan Pagi di Pantai Ropet (courtesy of Mira Sahid)

Selesai makan pagi kami langsung kembali ke penginapan. Seperti biasa…antri mandi dulu.. Saat antrian belum tuntas..terdengar lagi panggilan panitia..bahwa peserta harus segera bergerak ke pelabuhan dan kembali ke daratan Sumenep. Haha jadilah yang belum tuntas mandinya buru-buru dituntaskan..alias mandi alakadarnya 😀

Jejak BPWS : jalan berpaving di hampir seluruh jalan di Giliyang

 

Jejak BPWS : Panel Tenaga Surya dan Sarana Air Bersih

 

Jejak BPWS : Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya

Hari ketiga ini adalah perjalanan terpanjang. Karena kami menempuh perjalanan dari Giliyang hingga kecamatan Kwanyar kabupaten Bangkalan. Sepanjang perjalanan itu kami masih mampir ke beberapa titik, yaitu :

  • Bandara Trunojoyo Sumenep
  • Sentra rumput laut di desa Tanjung kecamatan Saronggi kabupaten Sumenep S
  • Sentra batik di desa Klampar kecamatan Proppo kabupaten Pamekasan.

Ada jejak BPWS di tempat-tempat tersebut, yaitu pembangunan fisik berupa jalan, Penerangan Jalan Umum (PJU), dan pembinaan UKM.

Bandara Trunojoyo Sumenep

 

Sentra Rumput Laut di desa Tanjung kecamatan Saronggi kabupaten Sumenep

 

Sentra Batik Klampar Pamekasan

Oya..kami juga mampir ke rumah salah satu blogger Madura di Pamekasan. Blogger yang akrab disapa Slamet itu sedang off dari segala kegiatan online untuk berkonsentrasi merawat orang tuanya. Begitulah nyedulurnya blogger 🙂

Saat kami sampai di Sampang, kami berhenti lagi sebentar untuk memenuhi keinginan pihak Polres Sampang. Mereka pengen dibuatin video manequine challenge yang lagi trend. Karena sudah terlatih…eciee terlatih.. :p gak perlu waktu lama video itu pun jadi.

 

Selesai sesi pembuatan video, perjalanan kami lanjutkan ke desa Ketetang kecamatan Kwanyar. Tepat magrib kami sampai di kantor kecamatan. Masyarakat setempat sudah menunggu dan menyambut kami dengan sangat luar biasa. Mereka menyuguhkan makanan dan minuman khas  Kwanyar, juga tarian anak-anak.

Di Pendopo Kecamatan Kwanyar

Selesai acara penyambutan kami harus bergeser ke dusun Koalas, beberapa kilometer dari kantor kecamatan tersebut. Di dusun itu kami akan menghabiskan malam terakhir perjalanan kami. Huaaaaa gak kerasa…udah mau selesai ajah.

Penyambutan di dusun Koalas juga luar biasa. Kami sempat ngobrol sebentar dan makan malam. Warga juga memperagakan cara pembuatan salah satu kuliner khas dari dusun tersebut yaitu krupuk udang yang digoreng dengan pasir.

Hari Keempat

Pagi sekali kami sudah terbangun dan antri mandi. Kami juga harus packing semua barang karena ini adalah hari terakhir perjalanan kami. Setelah makan pagi, ada beberapa peserta yang harus cuz duluan kembali ke kota asal.

Turun dari dusun Koalas (saya rasa letak dusun ini agak tinggi.. :D) kami masih diajak mampir ke beberapa titik di wilayah Bangkalan. Kami masih mampir ke Kawasan Kaki Jembatan Suramadu di sekitar kecamatan Labang dan disitu kami bikin video manequine challenge lagi untuk Polres Bangkalan. Setelah itu mampir ke pusat oleh-oleh khas Bangkalan, Tresna Art,  yang memenuhi hasrat blogger untuk narsis dan eksis. Hahha…bagaimana tidak..tempatnya itu looo…instagramable banget. Agak lama kami di Tresna Art. Maklum…banyak yang bisa dijadikan sasaran bidikan kamera 😀

Salah satu area di Tresna Art

Sebagai penutup Famstrip, kami ditraktir makan siang di Resto Ole Olang. Tempat ini gak asing buat saya. Karena sudah pernah ke tempat ini dan emang nagih menu-menunya 🙂 Kalau gak enak gak usah bayar katanya…haha. Sayangnya makanannya enak..jadi yaa…bayar deh… Etapi kalo pas acara famstrip ini gretonggg….dan tetep enak pake banget 😀

Penutupan di Resto OleOlang Bangkalan

Jumat Sore akhirnya semua peserta cek out dari Bangkalan. Terima kasih untuk Plat-M yang sudah mengundang saya, untuk BPWS..dan untuk semua yang berperan dalam perjalanan ini..Duh kok kayak saya panitianya gitu yak..hhaha.. Semoga kegiatan Menduniakan Madura tak berhenti sampai disini…Karena Madura itu keren dan dunia perlu tahu itu 😀

You may also like

55 Comments

  1. Maduraaaa…
    Pantainya masih bersih dan indah banget.

    Pingin banget jalan menyusuri keindahan Madura lainnya.
    Apalagi ke titik oksigen terbanyak.

    Berasa bisa panjang umur kalau hidup di sana yaa, mba..

    ^^

    1. Iya Lend…di pulau Giliyang kita bisa menemui banyak sekali orang sepuh tapi masih sehat dan bugar… 🙂 Ayo ke Madura… 😀

  2. Trnyata banyak bgt objek wisata di madura yaaaa :D. Aku taunya madura itu kulinernya doang yg enak2 mbak :D. Kalo wisatanya memang blm pernh aku explore.. Akunya lbh suka makan soalnya :p

  3. Komplit banget ceritanya. Asik ya, saya belum kesampaian men ke Madura. Btw maen ke ai terjun itu selalu menyenangkan buat saya. Ada chemistry yang bikin betah belama-lama di sana. Bikin adem hati juga.

  4. Apik banget tulisaneeee!

    Aku sambil sinau sitik2 sambil mengingat2 kejadian selama 4 hari 3 malam kemarin hahah.

    Btw pas bengi2 ndik Giliyang, menang bener banget jadi masa2 paling disukai blogger karena bisa ngobrol akrab apa saja hahaha

    Di malam itu pula diriku jadi akrab sama Angga (uhuk) trus betapa konyolnya si Edo hahahah.

    Aku kenal dirimu juga pas di Giliyang di pantai Ropet khan ya? Hahah waktu itu aku nanya namamu “Mbak Dani ya?”, eh ternyata salah. Yg bener Dian! Hahaha

    Lha soalnya instagrammu khan Dianesuryaman. Sekilas terbaca Danie. Haahah maap maap..

    1. Haha suwun Sang Vectoria Secret..eh Vectoria Jenaka 😁iki ngedraftnya butuh waktu bbrp hari..semacam rangkuman selama 4D3N. Jadinya ya rekor..tulisan terpanjang selama aku ngeblog wkwkwk..

      Iyes ndop..semua sepakat di Giliyang paling nyenengin..soale paling nyantai 😊 haha Angga the most silent itu ya 😃

      Haha salah maneh kui..IG ku dianesayank..hayo denda vektor wkwkwkwk

    1. Betul sekali.. padat Merayap 😀 Iya mbak Ria..kalo yang udah ngetop-ngetop tar dikunjungi di sesi berikutnya… *ngarep*

  5. Wuiih komplit banget siy mba Dian nulisnyaaaa! Aku ngga shanghup begitu, mba. Hahahaha. Akhirnya ya, bisa ketemuan kita😀. Seneng… seneng… seneng!

    1. Jehehe iya kak..karena klo kubuat bersambung takut keburu males..sayang klo gak tuntas 😊 jadi ya bikin yang tuntas. Selebihnya per lokasi bisa dibuat timeless aja 😊 iya nih kaka..seneng bisa jalan sama kak molly..dan banyak superwoman lainnya dlm rombongan 😊

  6. Bapakku itu keturunan Madura. Simbahku yang masih jualan sate gule Madura gitu. Tapi mrk sudah lama bertani di Ngawi, jadi aku sendiri malah belum pernah ke Madura. Trus bapakku sekarang malah jadi penyusun kamus bahasa Jawa. Suatu saat pengin mengenal asal usul. Waktu acara ini diajak mbak Indah tapi anak2ku lagi nggak bisa ditinggal 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *