IQRA’

Sebulan lebih berjalan. Anak-anakku begitu menikmati jadwal mengajinya. Tak perlu paksaan untuk berangkat mengaji. Hanya cukup aku ingatkan,”Kakak..Adik…waktunya ngaji..ayo siap-siap” Dengan sigap mereka mengambil perlengkpan mengajinya, sebuah buku ‘IQRA’ terbitan Jogja tahun 1990, seukuran buku tulis standart, dan cover berwarna hitam. Buku yang dibeli di buah toko buku tak jauh dari Taman Adipura Kota Sumenep.

Awalnya aku agak bingung dengan permintaan anak-anakku untuk dibelikan buku ‘IQRA’. Akhirnya aku bawa mereka ke toko buku dan memiih sendiri buku yang dimaksud. Sempat ditunjukkan buku yang sama dengan ukuran lebih kecil seperti buku saku, tapi anak-anakku lebih memilih buku berukuran standart.Di buku itu ada 5 ‘jilid atau bab’. Iqra’ 1 atau jilid 1 berisi pengenalan huruf dan tanda baca ‘fatha’.

Untuk si kecil, aku belum mengajarkan secara intens karena masih usia ‘playgroup’ dan memang masih ogah-ogahan diajak belajar serius. Untuk si sulung aku rasa tidak akan kesulitan memulainya, karena sebelum mengaji di tempatnya sekarang, sempat aku ajari sendiri dan sudah sampai bacaan bersambung dengan vokal a-i-dan u. Begitu juga dengan menulis hijaiyahnya. Dia begitu ‘amaze’ ketika pertama kali bisa membaca hijaiyah untuk kata-kata berbahasa indonesia. Misalnya kata-kata “saya, baca, itu, kamu” tapi dalam tulisan hijaiyah. Sampai buku latihannya dia bawa ke sekolah untuk ditunjukkan pada gurunya… Tampaknya si sulung sangat tidak sabar untuk bisa membaca sempurna huruf-huruf Al-Quran. Karena setiap memulai belajar iqra’ dia selalu meminta membaca bagian surat-surat pendek..atau doa-doa pendek..hehehe bersabarlah Nak…harus belajar bertahap.

Karena itu aku mendapat informasi dari teman-teman mengaji anak-anakku…kalau si sulung lebih cepat ngajinya dibanding adiknya. Kalau dalam waktu kurang dari 2 bulan kakaknya sudah masuk Iqra’ 2, adiknya masih Iqra’ 1 bagian Tha’. Tak apa. Yang terpenting buatku mereka selalu bersemangat mengaji, berangkat bersama-sama tetangga yang rata-rata usianya SD-SMP. Mereka juga tetap percaya diri sebagai murid mengaji paling kecil 🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *