Menebar Virus Energi Biogas

 

Rasanya masih segar dalam ingatan saya, ketika pertama kali datang ke dusun Brau kota Batu Jawa Timur 2 tahun lalu. Waktu itu sekitar jam 6 pagi saya dan teman-teman baru saja menyelesaikan perburuan sunrise di Gunung Banyak. Lelah dan kantuk sudah sejak subuh kami abaikan. Karena pagi itu saya akan diajak melihat penggunaan biogas dari limbah kotoran ternak sapi perah. Sejak tahun 2014, warga dusun ini mulai aktif memanfaatkan limbah kotoran ternaknya untuk sumber energi alternatif yaitu biogas.

Sahabat saya, Yuli Sugihartati (saya biasa memanggilnya Mbak Yuli), mengajak saya menyusuri jalan desa menuju beberapa titik instalasi biogas yang sudah ada. Sebelumnya saya mengetahui kalau tingkat pembuangan limbah ternak sapi perah ke sungai sangat tinggi. Karena kawasan Batu dan Pujon (wilayah kabupaten Malang) didominasi peternakan sapi perah. Orang yang pernah lewat kawasan Pujon pasti merasakan aroma kotoran sapi di sepanjang jalan yang bersisian dengan sungai. Warna air sungai pun keruh kecokelatan, bukan karena tanah yang bercampur dengan air seperti habis hujan. Tapi karena kotoran sapi perah yang langsung dibuang ke sungai. Padahal sungai-sungai di daerah ini merupakan kawasan hulu. Bisa dibayangkan kan..air yang tercemar kotoran sapi itu di hilirnya seperti apa..

Contoh Sungai yang tercemar kotoran sapi (sumber : Radar Malang)

Nah..dari kondisi seperti itulah mbak Yuli bersama teman-teman alumni Ikatan Mahasasiswa Pecinta Alam Universitas Brawijaya berinisiatif membantu warga mengurangi tingkat pencemaran di sungai. Pilihan jatuh pada pemanfaatan teknologi biogas. Jadi kotoran sapi tidak langsung dibuang ke sungai, melainkan ditampung dulu di bak penampung dan diolah hingga menghasilkan energi baru.

Langkah awalnya di Brau tidak mudah. Butuh sosialisasi yang intens ke warga. Apalagi warga pernah menjadi obyek uji coba teknologi ini tapi tidak berlanjut sehingga di beberap lokasi masih terdapat ‘bangkai’ instalasi biogas. Tapi dengan keteguhan dan kesungguhan mbak Yuli dan teman-teman dalam mengelola biogas, satu per satu warga mulai menerima dan berkenan membangun reaktor biogas di lahannya. Warga Brau yang mayoritas adalah petani dan peternak sapi perah tidak perlu repot-repot mengeluarkan biaya sekitar 10 juta untuk setiap reaktornya. Karena ada pihak-pihak yang secara sukarela mengucurkan dananya untuk proyek lingkungan hidup ini.

Proses pembuatan reaktor biogas (sumber : Yuli S.)

 

Proses pembuatan instalasi biogas (Sumber : Yuli S.)

 

Proses pengolahan biogas (Sumber : Yuli S.)

 

Tahun 2015 sudah ada sekitar 2-4 reaktor yang bisa menampung kotoran dari 8-10 kandang sapi perah dengan masing-masing kandang terdapat 2-4 ekor sapi. Warga bisa memanfaatkan energi biogas untuk bahan bakar rumah tangga dan listrik. Keberhasilan ini terus dipupuk dan dirawat, sehingga kepercayaan warga terhadap keberadaan energi ini semakin tinggi.

Ulasan saya sebelumnya bisa dibaca : From Hongkong To Brau

Dan tahukah kamu..? Di penghujung tahun 2017 ini jumlah reaktor di dusun Brau sudah menjadi 17 unit reaktor biogas di wilayah 2 RT. Wow..pesat sekali perkembangannya ya..Alhamdulillah saya pun ikut senang mengetahui  perkembangan yang luar biasa ini. Karena itu artinya masyarakat semakin mengerti pentingnya biogas yang bisa memberi banyak manfaat di berbagai sisi, diantaranya energi, lingkungan, dan ekonomi.

Memasak dengan bahan bakar biogas (Sumber : Yuli S.)

 

Penerangan dengan energi biogas (Sumber : Yuli S.)

Dari sisi energi, jelas..warga mendapatkan manfaat biogas untuk keperluan dapur. Tak ada lagi tabung-tabung gas hijau dan biru yang menghias dapur mereka. Cukup pipa gas bertekanan rendah yang tersambung ke kompor. Tak ada lagi kecemasan warga akan naiknya harga tarif listrik, karena biogas juga bisa untuk listrik yang menerangi rumah-rumah warga. Apalagi hasil akhir olahan biogas yang berupa bioslurry masih bisa dimanfaatkan untuk media ternak cacing dan kompos. Belum lagi warga sekarang sudah mampu memproduksi olahan susu, seperti stik susu. Jadi tidak lagi hanya bertumpu pada hasil penjualan susu segar. Dan yang terpenting adalah tingkat pencemaran sungai sudah pasti berkurang.

Produk Olahan Stik Susu (Sumber : Yuli S.)

Kalau dulu mbak Yuli pernah mengungkapkan keinginannya untuk membuat arisan reaktor biogas, rasanya sekarang warga tak perlu pusing memikirkan biaya..karena banyak pihak yang sukarela menyisihkan sejumlah dana untuk pembangunan reaktor biogas. Dan kelak warga juga bisa secara mandiri melanjutkan proyek lingkungan hidup ini.

Astra dan Energi Biogas

Sumber : Satu_Indonesia.Com

Astra melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) ternyata juga aktif mengkampanyekan energi terbarukan, termasuk biogas ini. Pada tahun 2015 YDBA menggelar acara “Penyalaan Api Perdana Biogas”, yaitu berupa pembinaan dengan mengembangkan teknologi biogas seperti yang dilakukan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Pembinaan ini dilakukan bekerjasama dengan PT. Pamapersada Nusantara dan PT. Prima Multi Mineral yang merupakan perusahaan Grup Astra di bidang bisnis pertambangan batubara.

Inisiasi pembuatan biogas ini dilatarbelakangi kegiatan usaha ternak rakyat yang belum memaksimalkan pemanfaatan kotoran ternak . Teknologi biogas ini merupakan salah satu improvement untuk Kelompok Tani Tunas Jaya binaan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Baprida untuk memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber bahan bakar dan pupuk kandang berkualitas. Teknologi biogas ini juga dapat menciptakan kegiatan ekonomi baru dan memperkuat usaha pertanian yang sudah ada. Dalam pembuatan biogas tersebut, para anggota Kelompok Tani Tunas Jaya diberikan pelatihan :

  • membangun reaktor biogas fixed dome
  • pelatihan mengoperasikan reaktor biogas yang sudah dibangun
  • merawat dan mengatasi masalah pengoperasian reaktor
  • pemanfaatan pupuk keluaran
  • pembuatan demplot
  • penggunaan pupuk keluaran
  • membentuk format pendampingan serta monitoring dan evalusi hasil pembuatan biogas.

 

YDBA sendiri adalah yayasan yang didirikan oleh William Soeryadjaya pada tahun 1980 dengan filosofi “Berikan Kail Bukan Ikan”. YDBA didirikan sebagai komitmen Astra untuk berperan serta secara aktif dalam membangun bangsa, seperti yang diamanatkan dalam butir pertama filosofi Astra, Catur Dharma, yaitu Menjadi Milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.

YDBA menjalankan program tanggung jawab sosial Astra dengan fokus pada UMKM yang meliputi UMKM subkontraktor terkait value chain bisnis Astra, manufaktur tidak terkait bisnis Astra, bengkel mitra Honda, AHASS (Astra Honda Authorized Service Station), bengkel umum roda empat, bengkel umum roda dua, pengrajin, dan petani. YDBA memfasilitasi UMKM yang tersebar di Indonesia baik yang masuk dalam value chain bisnis Astra maupun tidak berdasarkan pada operating values, yaitu CARE (Compassionate, Adaptive, Responsible dan Excellent).

YDBA juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada UMKM sesuai dengan kebutuhannya, yaitu untuk mencapai kemandirian. Untuk melakukan pembinaan di daerah.

YDBA bersama Grup Astra mendirikan LPB yang sampai saat ini telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia, diantaranya Mataram, Jakarta, Kutai Barat, Palembang, Kapuas Tengah, Tapin, Yogyakarta, Tegal, Paser, Pontianak.

Selamat untuk ASTRA yang telah menginspirasi selama 60 tahun semoga terus menginspirasi dan menebarkan kebaikan di seluruh pelosok negeri tercinta, Indonesia.

You may also like

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *