Tradisi Pesta Pendidikan di Madura

Madura khususnya kabupaten Sumenep, memiliki tradisi yang beragam. Entah berupa upacara adat, berupa kuliner, atau berupa kegiatan tertentu yang dilakukan secara turun temurun sejak lama. Salah satunya adalah pesta pendidikan. Seperti apa sih pesta pendidikan di Madura itu?

Sebelum mengetahui bentuk pesta pendidikan seperti apa..ada baiknya saya kasih info dulu nih..tentang pesta pendidikan yang dimaksud. Pesta pendidikan adalah semacam perayaan kesuksesan siswa dan siswi dalam menjalani masa pendidikan, baik itu di sekolah umum (biasanya di madrasah ibtidaiyah atau tsanawiyah) maupun di pesantren. Selain itu juga perayaannya diadakan karena ada yang hatam Al-Quran.

Nah…seperti apa pestanya..?Well…rupanya pestanya itu berupa serangkaian acara yang umumnya berlangung 1 hari saja dari sore hingga malam harinya. Salah satu yang pernah saya ikuti sebagian acaranya adalah sebuah pesta pendidikan yang digelar oleh lembaga pendidikan di kecamatan Ambunten.

Peserta Karnaval

Pestanya diadakan 2 tahun sekali saat selesai akhir tahun. Hampir semua siswa ikut, terutama kelas 4 sampai kelas 6. Saat siang harinya para siswa tersebut mengikuti pawai. Mereka didandani dengan pakaian adat ala pengantin, dan berpawai naik ‘jaran serek’ (kuda yang sudah dilatih untuk bisa berjalan mengikuti iringan musik), atau naik becak hias. Beberapa siswa juga melengkapi rombongannya dengan drumband. Ini tergantung kemampuan ortu siswanya sih…dan umumnya jor-joran untuk ikutan pawai. Mereka membiayai sendiri keperluan make-up (sekitar 500.000), sewa kuda (sekitar 500.000), dan  sewa drumbands atau grup musik tradisional pengiringnya.

Mereka diberangkatkan dari rumah masing-masing, lalu berkumpul di sekitar sekolah. Setelah semua peserta terkumpul barulah para siswa dilepas oleh pihak sekolah untuk berpawai. Rutenya gak terlalu jauh sih… jalan di sekitar sekolah aja. Pawai biasanya berlangsung dari jam 1 siang sampai jam 3 sore. Apakah acaranya selesai sampai disitu?Tidak. Setelah pawai, dilanjut pengajian di malam harinya. Untuk pengajian ada yang sampai mendatangkan penceramah dari luar kota.

Peserta Karnaval

 

Ada yang saweran juga..

Saya sempat merekam video saat karnaval ..sekalian menunggu kemacetan terurai 🙂

 

Konsumsi Acara

Acara yang relatif besar untuk sebuah lembaga pendidikan ini juga tak luput dari urusan konsumsi. Semua kebutuhan konsumsi baik untuk pawai maupun pengajian, disiapkan oleh pihak sekolah atau yayasan. Menunya gak tanggung-tanggung juga… nasi dengan lauk sate dan gule kambing atau sapi. Jadi persiapan untuk konsumsinya pun udah seperti hajatan kawinan. Untuk yang pawai nasi bungkus dengan berbagai macam lauk.

Wahh emang biaya dari mana? Rupanya mereka punya tabungan khusus untuk kegiatan ini. Siswa menabung setiap hari dalam jumlah tertentu. Selain itu orang tua atau wali murid juga banyak yang menyumbang kambing atau keperluan konsumsi lainnya. Sumbangan kecil-kecil kalau dikumpulkan selama 2 tahun ya lumayan juga ya…

Hajatan serupa bisa ditemui di hampir semua kecamatan kecuali di kecamatan kota. Misalnya di kecamatan Dasuk, kecamatan Batang-batang, kecamatan Dungkek, kecamatan Rubaru, dll. Hehehe entahlah…di kecamatan kota justru hampir gak ada acara semacam ini… Kecuali acara perayaan 17 Agustusan atau hari jadi kabupaten Sumenep. Waktu yang banyak digunakan untuk pesta ini biasanya menjelang puasa (karena akan memasuki masa libur), akhir tahun ajaran, atau sesudah lebaran haji atau Idul Adha. Maka jangan heran ya kalau tiba-tiba ada kemacetan di jalanan wilayah yang sudah saya sebutkan tadi. Sabar saja menunggu rombongan pawai lewat. 😀

Keragaman adat dan tradisi bukan hanya ada di Sumenep-Madura. Tentu kita sudah tahu betul Indonesia sangat kaya dengan tradisi dan adat istiadat warisan para leluhur. Seperti yang diulas Mak Tika Samosir di Website Kumpulan Emak Blogger. Kalau di daerahmu ada tradisi apa nih yang unik?

 

 

 

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *