Cerita Cangkir

Seminggu kemarin saya menghadiri 3 acara yang suasananya bertolak belakang. Satu acara resepsi pernikahan, 2 acara lainnya takziah. Ketiga acara itu istimewa bagi saya..karena saya baru pertama kali mengalaminya. Ciyuusss baru pertama kali kondangan plus takziah?Ciyusss…

Baru pertama kali kondangan di daerah pedesaan maksudnya… 🙂 Meskipun jaraknya relatif dekat dari area kecamatan kota tempat saya tinggal, tapi kultur masyarakatnya masih sangat tradisional. Acara resepsi bukan seperti yang biasa digelar di area kecamatan kota. Kalau di kecamatan kota, tamu datang, duduk, selama 1-2 jam menikmati suguhan yang sudah ditata di piring, selesai pulang. Nah di acara ini..saya datang jam 14.00, langsung duduk lesehan. Menurut seorang teman,  jam 14.00 adalah waktu khusus ‘muda-mudi’ yang datang membawa kado. Sementara jam sebelumnya..jam untuk orang tua-orang tua yang datang dan memberikan amplop. Weh..weh…saya termasuk muda-mudi donk…xixixi. Pantesan teman-teman wanti-wanti untuk ngasi kado aja dan datang antara jam 14.00 sampai sore..

Cangkir Kuno

Nah..saat lesehan saya dan tamu lainnya menikmati suguhan secangkir teh panas dan kue kering, persis seperti kita bertamu kalau lebaran. Kalau bertamu ke rumah disuguhi minuman seperti itu saya gak heran lagi. Tapi ini di sebuah resepsi pernikahan loh…Saya hanya membayangkan bagaimana kesibukan bagian dapur ya kalau harus senantiasa menyajikan teh panas di cangkir bertutup seperti itu? Lalu tuan rumah mempersilahkan satu per satu tamu mengambil kue butter yang disiapkan di dalam toples. Kuenya enak juga sih..renyah..hehehe.

Tak lama setelah itu rombongan saya dan teman-teman dipersilahkan ke sisi lain dari tempat itu yang hanya disekat kain spanduk bekas. Waw..Sudah siap 2 meja yang penuh dengan hidangan dan piring yang dipenuhi lauk pauk. Mengingatkan saya di rumah makan padang 😀 Ada mangkok cuci tangan, ada segelas air putih..(bukan air kemasan loh ya..), dan serbet kertas. Ya..ya..ya..dari tadi saya tidak melihat air kemasan ya..sudah terbayang berapa jumlah sampah yang bisa dihemat.. Dan..serbet kertasnya itu loh…

IMG02708-20140206-1519

Mereka memakai kertas bekas, yang tentu saja masih layak pakai. Saya tersadar, oiya ya…toh kertas-kertas itu akhirnya dibuang juga…gak perlu cakep-cakep pake kertas tisu makan yang warna-warni..yang penting bersih dan tetap berfungsi dengan baik. Teman yang duduk di samping saya melihat saya yang terpesona dengan serbet dari kertas bekas itu..Dia pun nyeletuk, “ di tempat saya juga begitu bu..pake kertas bekas..lebih hemat juga kan.. 🙂 ” Ya..ya..saya sepakat..dan rasanya patut ditiru.

Sambil makan saya melirik ke kanan dan ke kiri. Saya melihat ada sekelompok ibu-ibu tak jauh dari tempat saya makan. Mereka duduk santai sambil sesekali menuangkan teh ke cangkir kosong, menuangkan air putih ke gelas, dan menyiapkan piring-piring. Wah..disitu rupanya tempat penyajiannya. Lagi-lagi saya membayangkan..betapa dibutuhkan banyak sekali orang untuk membantu bagian dapur..Saya juga yakin tak ada jasa catering untuk acara ini.

Iseng saya bertanya pada teman, berapa orang dibutuhkan untuk menggelar acara seperti ini?Teman saya menjawab sekitar 350 orang, dan mereka semua adalah tetangga dan kerabat, bukan orang dari perusahaan catering yang biasanya melayani  lengkap dengan pakaian seragam. Luar biasa…setidaknya ini di mata saya ya.. 🙂 350 orang itu dibagi mulai bagian dapur, bagian terima tamu, bagian parkir..Dan memang diperlukan rapat panitia jauh-jauh hari sebelum hari-H, dan pembubaran panitia beberapa hari setelahnya. Mereka membantu tanpa pamrih, mereka juga datang sebagai tamu dan tetap ngamplop seperti biasa.

Suasana gotong royong seperti itu saya temui juga di 2 tempat takziah di hari yang sama dan 2 hari setelahnya. Ada 2 teman kerja yang keluarganya meninggal. Dalam suasana yang berbeda di tempat yang berbeda (masih di Sumenep juga tapi beda kecamatan dan jaraknya sekitar 20km dari Kota), gotong royong masih sangat dipegang erat. Para tetangga berdatangan untuk membantu tanpa diminta, apalagi dibayar. Ibu-ibu membantu di urusan dapur..memasak, mencuci piring, dll. Bapak-bapak menemui tamu, menyiapkan tempat,angkat ini angkat itu..

Di 2 tempat takziah itu saya juga disuguhi minuman panas dalam sebuah cangkir bertutup. Sama persis. Rasanya semua orang di Sumenep ini wajib punya  cangkir seperti itu ya… 😀 Mama saya bilang memang begitulah adanya. Mama saya menyebut cangkir kuno seperti itu harganya lumayan katanya..1 lusin bisa ratusan ribu harganya. Bukan hanya untuk keperluan sehari-hari. Bahkan di acara lamaran, pihak laki-laki biasanya menyertakan 1 set atau lebih cangkir seperti itu dalam seserahannya. Weh..weh…

Kalau buat saya sih..cangkir seperti itu jelas fungsinya..minuman terlindungi dari debu dan semut..dan awet panasnya. Silaturahmi dan keberkahan acaranya semoga awet juga ya…

You may also like

6 Comments

  1. Kebayang repot nya bagian dapur yq mak, tp Kyanya mereka asyik2 aja, slg membantu tnpa pamrih.. Itulah nak nya tgl di desa, guyub bgt. Ga kya di kota tetangga sblh rmh aja jrg ktmu 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *